Amerika Serikat menarik diri dari perundingan gencatan senjata Gaza di Qatar. Internationalmedia.co.id melaporkan, hal ini menimbulkan kecaman dari Hamas yang menuduh utusan AS, Steve Witkoff, memutarbalikkan fakta untuk mendukung Israel. Pernyataan Witkoff yang menyalahkan Hamas atas kegagalan negosiasi langsung dibantah keras oleh anggota biro politik Hamas, Bassem Naim. Naim menegaskan bahwa tanggapan Hamas terhadap proposal gencatan senjata justru dinilai positif oleh para mediator, dan sangat mendekati kesepakatan.
Perundingan yang melibatkan Qatar, AS, dan Mesir sebagai mediator, telah menemui jalan buntu setelah lebih dari dua minggu berlangsung. Menurut Naim, diskusi terakhir difokuskan pada detail penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza. Bahkan, ia mengklaim telah tercapai kesepakatan prinsip terkait pertukaran tawanan, baik warga Israel yang ditawan sejak 7 Oktober 2023, maupun tahanan Palestina yang ditahan Israel. Namun, Naim menuding Israel yang sebenarnya tidak berniat untuk mencapai gencatan senjata. Ia pun mendesak Witkoff untuk menekan pemerintah Israel agar lebih kooperatif.

Sementara itu, Witkoff mengakui kegagalan perundingan di Doha dan mengumumkan penarikan tim AS untuk berkonsultasi. Ia mempertanyakan itikad baik Hamas, sebuah pernyataan yang langsung direspon Naim sebagai upaya pembenaran atas dukungan AS terhadap Israel. Kegagalan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan gencatan senjata di Gaza dan peran Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Internationalmedia.co.id akan terus memantau perkembangan situasi ini.

