Internationalmedia.co.id melaporkan kabar mengejutkan terkait Narges Mohammadi, penerima Nobel Perdamaian 2023. Aktivis hak asasi manusia asal Iran ini mengaku menerima ancaman pembunuhan dari otoritas negaranya. Informasi ini disampaikan langsung oleh Komite Nobel Norwegia, Jumat (11/7/2025), mengutip pernyataan dari Mohammadi sendiri.
Perempuan berusia 53 tahun tersebut baru saja menghirup udara bebas Desember lalu setelah menjalani hukuman penjara di Evin, Teheran, karena alasan medis. Namun, kebebasan tersebut tampaknya tak menjamin keselamatannya. Jorgen Watne Frydnes, Ketua Komite Nobel Norwegia, mengungkapkan menerima panggilan darurat dari Mohammadi yang menyatakan nyawanya terancam.

"Ancaman pembunuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung, disampaikan oleh agen-agen rezim," ujar Frydnes, menirukan pesan Mohammadi. Komite Nobel juga menambahkan bahwa ancaman tersebut mengindikasikan bahwa keselamatan Mohammadi hanya akan terjamin jika ia menghentikan semua aktivitas publik di Iran, termasuk advokasi internasional dan penampilan media yang mendukung demokrasi, HAM, dan kebebasan berekspresi.
Kecemasan mendalam menyelimuti Komite Nobel Norwegia. Mereka menyatakan keprihatinan yang sangat besar atas ancaman terhadap Mohammadi dan warga Iran kritis lainnya. Seruan perlindungan nyawa dan kebebasan berekspresi pun dilontarkan kepada otoritas terkait.
Mohammadi, yang dikenal vokal mengkritik hukuman mati dan aturan berpakaian di Iran, telah berulang kali dipenjara. Penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya—diwakilkan oleh anak-anaknya karena ia masih dipenjara saat itu—merupakan pengakuan atas perjuangannya melawan penindasan perempuan di Iran. Kini, perjuangannya dibayangi ancaman kematian.
