internationalmedia.co.id – Kondisi lahan yang semula gersang, kering, dan dipenuhi bebatuan di kawasan transmigrasi Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kini telah berubah wajah. Masyarakat Desa Sebunga, yang berada di wilayah Gerbang Mas Perkasa, kini mulai merasakan manisnya kemandirian pangan setelah pekarangan rumah mereka yang dulunya tidak produktif disulap menjadi kebun sayur yang hijau dan menjanjikan.
Transformasi lahan ini tidak terjadi begitu saja. Keberhasilan ini merupakan buah dari kolaborasi nyata antara warga setempat dengan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI). Melalui pendekatan yang terukur, lahan yang sebelumnya dianggap mustahil untuk ditanami, kini menjadi sumber nutrisi sekaligus penghemat pengeluaran rumah tangga bagi warga setempat.

Salah satu warga, Ana Sofia, mengungkapkan rasa syukurnya atas perubahan signifikan ini. Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan kesibukan yang positif bagi para ibu rumah tangga di desa tersebut. Selama ini, warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan sayuran segar.
"Kami sangat senang dengan kehadiran Tim Ekspedisi Patriot. Ibu-ibu di sini sekarang memiliki kegiatan yang produktif. Hasil sayuran dari kebun ini bisa langsung dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga kami tidak perlu lagi membeli. Padahal, jika ingin membeli sayur dari pusat Kabupaten Sambas, perjalanannya sangat jauh dan memakan waktu sekitar dua jam," ungkap Ana.
Kondisi geografis memang menjadi tantangan terbesar bagi warga transmigrasi di Sebunga. Ola, salah satu warga lainnya, menceritakan bahwa sebelumnya tanah di wilayah mereka sangat sulit untuk diolah. Karakteristik tanah yang kering, berwarna kuning, dan berbatu membuat tanaman sangat mudah mati karena kurangnya unsur hara dan air.
Menanggapi tantangan tersebut, TEP UI melakukan langkah strategis melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan masalah. Dari diskusi tersebut, ditentukanlah 10 jenis komoditas utama yang paling dibutuhkan, mulai dari cabai, tomat, timun, hingga tanaman obat keluarga. Proses pemulihan lahan dilakukan secara teknis, mulai dari penggemburan tanah menggunakan traktor tangan dengan dukungan Kapolsek Sajingan Besar, pemberian kapur dolomit untuk menetralkan pH tanah, hingga penggunaan limbah sawit dan pupuk organik guna memperkaya nutrisi tanah.
Rahayu, perwakilan dari TEP UI, menjelaskan bahwa program ini mengusung konsep Integrated Farming atau pertanian terpadu. Ia berharap agar masyarakat dapat menjadi "local champion" yang mampu mengelola kebun tersebut secara mandiri dan berkelanjutan di masa depan.
Langkah kecil di Desa Sebunga ini sebenarnya selaras dengan visi besar pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto telah berkali-kali menekankan pentingnya swasembada pangan sebagai benteng pertahanan nasional di tengah ketidakpastian global dan konflik antarnegara. Kemandirian pangan di tingkat desa adalah fondasi utama agar bangsa ini tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya solusi berbasis lokal. Ia mendorong para pemuda dan akademisi untuk memetakan masalah di lapangan dan memberikan solusi nyata yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh ekonomi warga. Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa esensi transmigrasi masa kini adalah memastikan kesejahteraan masyarakat tumbuh secara organik di wilayah baru tersebut.
