Sebuah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 5,1 yang mengguncang wilayah Banten baru-baru ini telah berhasil dianalisis penyebabnya oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Fenomena alam ini, yang berpusat di laut dengan kedalaman dangkal 33 kilometer, dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa getaran gempa ini bahkan terasa hingga ke Cianjur dan Sukabumi, menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai jangkauan dampaknya.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan dalam keterangan resminya pada Jumat lalu, bahwa analisis mendalam terhadap lokasi episenter dan hiposenter mengonfirmasi gempa ini sebagai jenis gempa dangkal. "Gempa bumi ini merupakan manifestasi dari aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia," ujar Wijayanto. Ia menambahkan, hasil kajian mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan sesar mendatar naik, atau dikenal sebagai oblique thrust fault, yang menjadi pemicu utama guncangan tersebut.

Titik episenter gempa tercatat berada pada koordinat 8.66 Lintang Selatan (LS) dan 105.67 Bujur Timur. Meskipun berpusat di Banten, dampak getaran gempa ini meluas hingga ke beberapa wilayah lain. Berdasarkan pemetaan intensitas guncangan (shakemap) BMKG, getaran dirasakan dengan skala intensitas II Modified Mercalli Intensity (MMI) di Cianjur dan Sukabumi. Skala II MMI mengindikasikan bahwa getaran tersebut hanya dirasakan oleh sebagian kecil orang, dengan efek ringan seperti benda-benda yang digantung sedikit bergoyang.
Kabar baiknya, BMKG menegaskan bahwa gempa dangkal ini tidak memiliki potensi untuk memicu gelombang tsunami. Hingga laporan ini disusun, belum ada aktivitas gempa susulan (aftershock) yang terdeteksi oleh sistem monitoring BMKG, memberikan rasa lega bagi masyarakat di area terdampak.
Pihak BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut. "Kami akan terus melakukan monitoring terhadap potensi gempa susulan dan secara berkala menyampaikan pemutakhiran informasi kepada para pemangku kepentingan serta masyarakat luas," pungkas Wijayanto, memastikan transparansi dan kesiapsiagaan informasi.
