Internationalmedia.co.id – News – Kebakaran hebat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat, hingga kini masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Menanggapi situasi darurat ini, Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, secara resmi mengusulkan langkah ekstrem: modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan buatan di lokasi.
Dedie A Rachim menjelaskan bahwa modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi penanganan krusial, terutama jika hujan alami tak kunjung turun di wilayah Galuga. "Jadi memang salah satu penanganan yang harus dilakukan adalah modifikasi cuaca dengan menurunkan hujan, kalau kemudian ternyata hujan alami tidak turun di wilayah Galuga. Itu yang kita coba usulkan nanti (pemerintah pusat)," ujarnya pada Jumat.

Berbagai potensi dan sumber daya telah dikerahkan secara maksimal. Dedie menegaskan bahwa penanganan kebakaran ini melibatkan kolaborasi erat antara Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya. Bahkan, operasi water bombing menggunakan pesawat TNI AU dari Lanud Atang Sanjaya (ATS) terus dilakukan untuk memperluas jangkauan air dan mempercepat proses pemadaman. "Jadi multimethod lah ya, tidak mungkin dengan hanya cuma satu cara," tambahnya, menggambarkan pendekatan komprehensif yang diambil.
Wali Kota Dedie A Rachim bersama Bupati Bogor Rudy Susmanto turut memantau langsung penanganan di lokasi hingga dini hari. Ia mengungkapkan, meskipun dari luar api tidak selalu terlihat, titik-titik bara masih muncul dari bawah timbunan sampah yang diurai menggunakan alat berat. "Namun, seperti yang kita duga, api di lokasi tempat pembuangan akhir sampah ini kan ibarat sekam ada di dalam. Jadi, kelihatan dari luar seperti tidak ada muncul api atau titik api, tetapi manakala kita gali, kemudian terlihat api," jelas Dedie.
Sementara itu, Bupati Bogor Rudy Susmanto sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa area terdampak kebakaran di TPAS Galuga terus meluas. Awalnya hanya sekitar 1,7 hektare, kemudian meningkat menjadi lima hektare, dan kini telah mencapai sekitar 7,1 hektare. Angka tersebut mencakup lahan di luar TPAS serta area pengelolaan sampah milik Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor.
Meski kobaran api besar tidak lagi terlihat secara kasat mata, kepulan asap tebal yang terus muncul dari gundukan sampah menjadi indikasi kuat bahwa bara api masih aktif di dalam timbunan. Petugas di lapangan tak henti-hentinya membongkar setiap gundukan sampah menggunakan alat berat, kemudian menyemprot dan mendinginkannya secara intensif sebelum menutup kembali area tersebut. "Kalau dilihat, apinya tidak terlihat. Namun, asap terus mengepul sedikit-sedikit dan di dalamnya ternyata masih ada bara api. Kami bongkar satu per satu lalu didinginkan," terang Rudy, menggambarkan upaya keras yang masih terus dilakukan.
