Kupang, NTT – Kabar duka menyelimuti dunia medis Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau akrab disapa dr. Icha (27), ditemukan meninggal dunia di kediamannya. Diduga kuat akibat depresi, kematian tragis ini mencuat setelah dr. Icha disebut-sebut mengalami intimidasi dari dua anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) saat bertugas. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, informasi awal mengenai kepergian dokter muda ini disampaikan oleh paman korban.
Victor Manbait, paman dr. Icha, membagikan kabar pilu ini melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (27/6/2026) sore, sekitar pukul 18.30 Wita, setelah menerima informasi dari ayah korban. "Dokter Icha telah berpulang ke rumah bapa di surga," tulis Victor, meski pada awalnya penyebab pasti kematian belum dapat dipastikan.

Insiden yang diduga menjadi pemicu depresi dr. Icha terjadi pada 13 Juni 2026 di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu. Saat itu, dr. Icha tengah menangani seorang pasien anak korban gigitan ular hijau, yang merupakan rujukan dari RSUD Kefamenanu. Tak lama berselang, dua pria yang kemudian diketahui sebagai anggota DPRD TTU, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, mendatangi IGD. Mereka disebut-sebut berbicara dengan nada keras kepada dr. Icha, memicu suasana tegang di ruang gawat darurat. Pasien anak tersebut diketahui merupakan keponakan dari Therensius.
Fabianus Banase, paman sekaligus juru bicara keluarga, kemudian mengonfirmasi bahwa dr. Icha ditemukan gantung diri di lantai dua rumahnya sekitar pukul 17.55 Wita. "Dari hasil pemeriksaan kesehatan jiwa, almarhum ini mengalami guncangan hebat hingga melakukan percobaan bunuh diri," ungkap Fabianus saat ditemui di rumah duka di RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Sabtu (27/6/2026), memperkuat dugaan depresi sebagai penyebab utama.
Menanggapi tudingan tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani membantah keras telah melakukan intimidasi. Therensius menjelaskan bahwa keluarga pasien, yang merupakan keponakannya, saat itu dilanda kepanikan luar biasa melihat kondisi anak yang terus mengeluh sakit. "Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id. Ia menambahkan, "Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter."
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan pemikiran untuk bunuh diri, sangat disarankan untuk segera mencari bantuan profesional. Konsultasikan persoalan Anda ke psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat untuk mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat.
