Internationalmedia.co.id – News, Bogor. Sebuah era baru bagi pejalan kaki di Kota Bogor dimulai dengan pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Stasiun Bogor, Jalan Kapten Muslihat. Struktur yang telah lama berdiri ini kini diruntuhkan untuk digantikan dengan fasilitas penyeberangan yang lebih modern dan ramah pejalan kaki: pelican crossing.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menegaskan langkah ini merupakan bagian integral dari visi menjadikan Kota Bogor sebagai daerah yang berpihak pada pejalan kaki. "Nantinya sudah tidak ada lagi JPO, akan ada pelican crossing atau zebra cross yang menjadi fasilitas utama bagi masyarakat untuk menyeberang," ujarnya, Sabtu (27/6). Ia menambahkan, inisiatif ini juga bertujuan membangun budaya berkendara yang lebih menghormati hak-hak pengguna jalan kaki. "Kita membiasakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mengerem ketika ada orang yang menyeberang. Jadi di situ ada nilai solidaritas kemanusiaan," jelas Dedie.

Pembongkaran JPO ini bukan tanpa alasan. Diketahui, JPO di depan Stasiun Bogor telah ditutup sejak tahun 2025 setelah hasil penelitian konstruksi dari Ditjen Bina Marga Kementerian PU menyatakan bahwa struktur tersebut mengalami kerusakan berat. Proses pembongkaran sendiri dimulai sejak Jumat (26/6) dan direncanakan berlangsung hingga Kamis (2/7).
Proyek penggantian JPO ini dipercayakan kepada pihak swasta dengan alokasi anggaran sebesar Rp 329 juta. Target penyelesaian ditetapkan dalam kurun waktu satu bulan. "Ini akan kita coba percepat. Yang penting konstruksi utamanya malam ini sudah kita mulai digarap. Sling penopangnya itu mungkin bisa kita putus dulu supaya girder-nya yang di tengah ini bisa diturunkan dulu," tambah Dedie, menunjukkan fokus pada percepatan pengerjaan.
Selama proses pembongkaran, akses jalan yang melintasi area JPO akan ditutup total. Penutupan dilakukan setiap malam, mulai pukul 00.00 WIB hingga 04.00 WIB. Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Bogor, Ridwan, saat dihubungi internationalmedia.co.id, Kamis (25/6), menjelaskan bahwa penutupan ini akan berlangsung paling cepat empat hari dan paling lama tujuh hari. "Jadi penutupan hanya pada malam hari, penutupannya hanya 4 jam," tegas Ridwan, memastikan gangguan terhadap lalu lintas siang hari dapat diminimalisir.
