Sebuah insiden yang sempat menyita perhatian publik terkait gelaran Jogja Marathon kini telah menemui titik terang. Ajudan Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, bersama perwakilan panitia atau Marshall Jogja Marathon, telah melangsungkan mediasi untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Kedua belah pihak secara terbuka menyampaikan permohonan maaf. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, rekaman video permintaan maaf ini telah beredar luas, dikonfirmasi oleh Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito.
Serda Ainul Yaqin, ajudan yang dimaksud, menyampaikan penyesalannya secara langsung dalam video tersebut. Ia mengakui kelalaiannya saat berpartisipasi dalam lari marathon tanpa menggunakan nomor dada atau ‘Bib’, yang merupakan pelanggaran aturan.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari dengan menggunakan jersey, namun tidak menggunakan Bib. Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan, dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku," ujar Serda Ainul Yaqin dengan nada penyesalan.
Ia melanjutkan, "Dengan tulus saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas, dan relawan, serta seluruh peserta yang terdampak oleh kejadian ini. Saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan dan menjadikannya sebagai pembelajaran ke depan. Terima kasih atas kritik dan masukan yang diberikan." Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk belajar dari kesalahan.
Tak hanya dari pihak ajudan, perwakilan panitia atau Marshall Jogja Marathon juga turut menyampaikan permintaan maaf. Dalam momen yang penuh kehangatan, keduanya terlihat berpelukan, menandakan berakhirnya perselisihan.
"Saya juga memohon maaf atas tindakan saya yang berlebihan, dan saya juga menganggap masalah ini telah selesai, terima kasih," kata Marshall, menegaskan bahwa persoalan tersebut telah tuntas.
Mayor Inf Suwito, Kapenrem 072/Pamungkas, mengonfirmasi kepada internationalmedia.co.id bahwa insiden tersebut murni kesalahpahaman. "Itu statement-nya, terjadi kesalahpahaman aja, dan sudah saling memaafkan," jelas Suwito, menekankan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepahaman dan saling memaafkan. Insiden ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi dan kepatuhan terhadap aturan dalam setiap event publik, sekaligus menunjukkan kedewasaan kedua belah pihak dalam menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
