Perundingan krusial antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, diwarnai ketegangan tinggi. Presiden AS, Donald Trump, kembali menegaskan ancaman serius berupa "penghancuran total" jika negosiasi damai gagal mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Iran mengajukan tuntutan signifikan yang harus dipenuhi sebelum perundingan resmi dimulai. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pertemuan ini menjadi bagian dari gencatan senjata dua minggu yang bertujuan mencari perdamaian permanen.
Trump mengingatkan bahwa militer AS telah siaga dengan "amunisi terbaik" dan "senjata terbaik yang pernah dibuat" untuk menyerang Iran apabila kesepakatan damai tidak terwujud. "Kita sedang melakukan pengaturan ulang. Kita sedang mengisi kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan lebih baik dari yang kita gunakan sebelumnya, dan kita telah menghancurkan mereka," kata Trump kepada New York Post, seperti dikutip Al Arabiya, Sabtu (11/4/2026). Pernyataan ini muncul tak lama setelah Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Islamabad untuk memimpin delegasi AS. Trump menegaskan, "Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menggunakannya, dan kita akan menggunakannya dengan sangat efektif."

Presiden AS juga menyuarakan keraguan mendalam atas integritas tim negosiasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Ia mengkritik bahwa Iran, setelah mengklaim penyingkiran senjata nuklir, justru kemudian menyatakan keinginan untuk memperkaya uranium di depan publik. "Jadi kita akan mengetahuinya," ucap Trump. Melalui media sosial Truth Social, Trump menambahkan bahwa Iran "tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memegang kartu tawar-menawar yang berarti, kecuali taktik pemerasan jangka pendek terhadap komunitas global melalui jalur perairan internasional." Menurutnya, "Satu-satunya alasan mereka masih hidup saat ini adalah untuk bernegosiasi!"
Tuntutan Iran Jadi Penghalang Awal
Namun, sebelum negosiasi dimulai, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuntut gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Teheran yang dibekukan di luar negeri sebagai prasyarat mutlak sebelum negosiasi dengan AS dimulai. Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran, langsung memicu keraguan atas kelanjutan perundingan dengan tuntutan tersebut. "Dua dari langkah-langkah yang telah disepakati bersama antara kedua pihak, belum dilaksanakan: gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Iran yang diblokir sebelum dimulainya negosiasi," ujarnya melalui media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya. "Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai," tegas Ghalibaf.
Teheran berulang kali menekankan bahwa gencatan senjata dua minggu yang disepakati harus diperluas cakupannya hingga Lebanon, mengingat Israel terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah yang didukung Iran di sana. Namun, baik Washington maupun Tel Aviv membantah bahwa gencatan senjata tersebut mencakup wilayah Lebanon.
Aset Iran yang dibekukan di luar negeri akibat sanksi AS diperkirakan mencapai angka fantastis. Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tindakan koersif sepihak, Alena Douhan, pada tahun 2022 memperkirakan jumlahnya antara US$100 miliar hingga US$120 miliar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak Amerika Serikat mengenai tuntutan Iran tersebut.
(isa/isa)

