Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan, mengaku bahwa Presiden Tiongkok Xi Jinping telah memberikan jaminan untuk menghentikan pasokan senjata ke Iran. Klaim ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social dan dalam wawancara dengan Fox Business. Dilansir dari Internationalmedia.co.id – News, pernyataan ini memicu perhatian global, mengingat ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan hubungan kompleks antara AS dan Tiongkok.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis, "Mereka telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran." Ia bahkan menambahkan bahwa Presiden Xi akan menyambutnya dengan "pelukan hangat" saat pertemuan puncak yang direncanakan pada 14-15 Mei di Beijing. Dalam kesempatan terpisah di Fox Business, Trump memperkuat klaimnya, menyebut Xi "pada dasarnya" telah berjanji untuk tidak mengirimkan persenjataan.

Trump mengungkapkan bahwa ia sebelumnya mendengar laporan mengenai Tiongkok yang diduga memasok senjata ke Iran. Menanggapi hal tersebut, ia mengaku telah mengirimkan surat kepada Xi Jinping yang isinya meminta agar Tiongkok menghentikan praktik tersebut. Xi Jinping, menurut Trump, membalas suratnya dengan pernyataan yang "pada dasarnya" menegaskan bahwa Tiongkok tidak melakukan pengiriman senjata seperti yang dituduhkan.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Tiongkok, terutama terkait konflik di Timur Tengah. Pertemuan puncak antara Trump dan Xi, yang semula dijadwalkan pada Maret, harus ditunda menyusul keputusan Trump untuk melancarkan "perang" – sebuah istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada ketegangan dagang atau kebijakan luar negeri yang agresif.
Tiongkok sendiri sebelumnya menuduh AS melakukan "perilaku berbahaya dan tidak bertanggung jawab" atas blokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Presiden Xi Jinping juga pernah bersumpah bahwa negaranya akan memainkan "peran konstruktif" dalam mempromosikan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Menariknya, Trump juga mengklaim di Truth Social bahwa "Tiongkok sangat senang bahwa saya secara permanen membuka Selat Hormuz. Saya melakukannya untuk mereka juga – dan untuk dunia."
Dalam wawancara yang sama, Trump turut disinggung mengenai dugaan serangan siber besar-besaran yang dilakukan Tiongkok terhadap FBI. Tanpa mengkonfirmasi secara langsung, ia memberikan jawaban yang ambigu namun lugas, "Kami melakukannya kepada mereka. Mereka melakukannya kepada kami." Ia menambahkan, "Tiongkok adalah Tiongkok. Tidak pernah mudah, tetapi kami berhasil dengan baik dalam berurusan dengan Tiongkok."
Trump menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa ia adalah "orang yang paling keras" dalam menghadapi Tiongkok, menggarisbawahi pendekatannya yang tegas dalam hubungan bilateral kedua negara adidaya tersebut.

