Internationalmedia.co.id – News – Perundingan krusial antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan berakhir tanpa titik terang, menyisakan ketegangan yang kian memuncak di Timur Tengah. Washington secara terang-terangan menuding Teheran menolak syarat fundamental untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sebuah penolakan yang menjadi batu sandungan utama dalam upaya mencapai kesepakatan. Dilansir dari Al-Jazeera pada Minggu (12/4/2026), kebuntuan ini diungkapkan langsung oleh Wakil Presiden AS, JD Vance.
Vance secara lugas membeberkan bahwa inti dari kegagalan negosiasi adalah keengganan Iran untuk memberikan komitmen jangka panjang. "Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir," tegas Vance. Ia menambahkan bahwa inilah tujuan utama Presiden Amerika Serikat dan yang telah diupayakan keras melalui serangkaian negosiasi.

Meskipun fasilitas pengayaan nuklir Iran sebelumnya telah dihancurkan, Vance menekankan bahwa fokus AS adalah pada jaminan masa depan. "Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kita belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya," jelasnya, menyiratkan kekecewaan atas kurangnya progres.
Lebih lanjut, Vance mengklaim bahwa delegasi AS telah menunjukkan fleksibilitas dan akomodasi yang tinggi, sesuai instruksi Presiden Donald Trump. "Kita belum bisa mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kita. Saya pikir kita cukup fleksibel; kita cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, ‘Kalian harus datang ke sini dengan iktikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan’. Kami melakukan itu, dan sayangnya, kami tidak mampu mencapai kemajuan apa pun," ujarnya, menyoroti ketidakmampuan kedua belah pihak menemukan titik temu.
Kegagalan perundingan ini tidak terlepas dari latar belakang konflik bersenjata yang telah mendera kawasan. Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang berujung pada gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Iran merespons dengan serangan balasan masif terhadap Israel dan berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Konflik tersebut telah menelan korban jiwa yang sangat signifikan: 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka di Iran, 26 orang tewas dan 7.451 orang terluka di Israel, serta 13 tentara AS tewas dan 200 lainnya terluka. Kebuntuan negosiasi nuklir ini semakin memperkeruh situasi yang sudah tegang, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di masa mendatang.

