Close Menu
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
  • Amerika
  • Asean
  • Asia
  • Eropa
  • Timur Tengah
Internationalmedia.co.idInternationalmedia.co.id
Home ยป Operasi Ranjau AS Picu Amarah Iran
Trending Indonesia

Operasi Ranjau AS Picu Amarah Iran

GunawatiBy Gunawati15-04-2026 - 21.00Tidak ada komentar3 Mins Read1 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Telegram Tumblr Email
Operasi Ranjau AS Picu Amarah Iran
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Internationalmedia.co.id – News – Washington DC. Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan pengerahan dua kapal perang Angkatan Lautnya ke Selat Hormuz. Misi yang diklaim AS adalah untuk membersihkan ranjau laut yang diduga dipasang oleh Iran. Langkah ini segera memicu respons keras dari Garda Revolusi Iran, yang mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap setiap kapal militer asing yang berani melintasi jalur perairan vital tersebut. Pengumuman ini disampaikan pada Minggu (12/4/2026), menandai eskalasi signifikan pasca-konflik AS-Israel dengan Iran.

Laksamana Brad Cooper, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk "membangun jalur baru" yang aman bagi industri maritim. "Hari ini, kami memulai proses untuk membangun jalur baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini dengan industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas," ujar Cooper. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington telah memulai upaya "pembersihan" di selat yang menjadi arteri utama bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia.

Operasi Ranjau AS Picu Amarah Iran
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dua kapal perusak rudal, USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy, menjadi ujung tombak dalam operasi ini. Namun, CENTCOM tidak menutup kemungkinan pengerahan "pasukan AS tambahan, termasuk drone bawah air," untuk memperkuat upaya tersebut dalam beberapa hari ke depan, mengindikasikan skala operasi yang mungkin akan meluas.

Namun, klaim Washington segera dibantah keras oleh Teheran. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, dengan tegas menyatakan bahwa izin melintasi Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran. "Inisiatif untuk melewati kapal mana pun berada di tangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran," ujarnya melalui siaran televisi pemerintah, menepis narasi AS tentang kebebasan navigasi di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, Komando Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, seperti dikutip oleh stasiun televisi pemerintah IRIB, mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan bahwa setiap upaya kapal militer asing untuk melintasi Selat Hormuz tanpa izin akan "ditindak tegas." Jalur pelayaran di selat tersebut, menurut mereka, hanya akan "diberikan kepada kapal sipil dengan syarat-syarat tertentu," menegaskan kedaulatan Iran atas perairan strategis itu.

Presiden Trump, melalui unggahan di media sosialnya, sebelumnya telah mengklaim bahwa AS "memulai proses pembersihan Selat Hormuz." Ia bahkan menyebut operasi ini sebagai "bantuan" bagi negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Prancis, yang menurutnya "tidak memiliki keberanian atau kemauan" untuk mengatasi ancaman ranjau tersebut. Trump bersikeras bahwa Iran "MERUGIKAN BESAR!" dalam konflik yang sedang berlangsung, meskipun ia mengakui bahwa ranjau-ranjau yang diduga dipasang Iran di selat strategis itu masih menjadi ancaman serius. "Satu-satunya hal yang mereka miliki adalah ancaman bahwa sebuah kapal mungkin ‘menabrak’ salah satu ranjau laut mereka," tulis Trump, meremehkan kekuatan militer Iran selain ancaman ranjau.

Ketegangan terbaru ini muncul setelah jalur pelayaran utama di lepas pantai Iran praktis telah diblokir oleh Teheran sejak 28 Februari, menyusul serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Upaya diplomatik untuk meredakan krisis melalui perundingan antara AS dan Iran di Pakistan juga dilaporkan telah menemui jalan buntu. Situasi di Selat Hormuz, yang vital bagi perdagangan global, kini kembali menjadi titik didih konflik yang berpotensi memicu gejolak lebih lanjut di Timur Tengah.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Gunawati
Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Related Posts

Ancaman Trump Iran Syarat Berat Muncul

15-04-2026 - 23.45

Perundingan Sengit Iran AS Berakhir Buntu

15-04-2026 - 23.30

Trump Ungkap Janji Xi Jinping Soal Iran

15-04-2026 - 23.15

Iran Siap Tutup Laut Merah Balas Blokade AS

15-04-2026 - 23.00

Perundingan Nuklir Buntu Iran Tolak Syarat Penting AS

15-04-2026 - 21.45

Kim Jong Un Bikin Dunia Kaget PBB Ungkap Fakta Ini

15-04-2026 - 21.30
Leave A Reply Cancel Reply

Internationalmedia.co.id
  • Privacy
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak
  • Tentang

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.