Internationalmedia.co.id – News – Sebuah konvoi kemanusiaan yang terdiri dari sekitar 20 kapal Prancis telah memulai pelayarannya dari Marseille, Minggu (5/4/2026), untuk bergabung dengan armada internasional ‘Global Sumud Flotilla’. Misi utama armada ini adalah menembus blokade yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza dan menyalurkan bantuan vital kepada penduduknya yang sangat membutuhkan.
Ribuan warga berkumpul di dermaga Marseille, meneriakkan dukungan "Gaza, Marseille bersamamu," saat kapal-kapal tersebut, mayoritas adalah kapal layar, perlahan meninggalkan pelabuhan. Keberangkatan yang diiringi tepuk tangan meriah dan nyanyian ini berlangsung tak lama setelah pukul 17.00 waktu setempat, menandai dimulainya perjalanan untuk bergabung dengan ‘Global Sumud Flotilla’, sebuah nama yang diambil dari seorang nelayan Gaza.

Armada ‘Global Sumud Flotilla’ sendiri diperkirakan akan melibatkan sekitar 100 perahu dari berbagai negara. Sebagian besar dari kapal-kapal ini dijadwalkan berlayar dari Barcelona pada 12 April, dengan perkiraan tiba di perairan Gaza sekitar 20 April. Sebelum mencapai tujuan akhir, sebuah singgah selama seminggu akan dilakukan di Italia selatan untuk "pelatihan tanpa kekerasan," mempersiapkan para aktivis menghadapi potensi tantangan di kemudian hari.
Manon, salah satu anggota kru yang memilih untuk tidak menyebutkan nama lengkapnya, mengungkapkan motivasi utama di balik misi ini. "Tujuannya adalah untuk memberikan visibilitas yang lebih besar kepada Palestina. Saat ini, isu Palestina kurang mendapat perhatian di tengah konteks internasional yang begitu kompleks," ujarnya, menegaskan pentingnya upaya ini untuk menarik kembali perhatian dunia.
Misi serupa bukanlah yang pertama kali. Pada akhir tahun 2025, sebuah armada awal yang terdiri dari sekitar 50 perahu, termasuk di dalamnya tokoh politik dan aktivis lingkungan ternama seperti Greta Thunberg dari Swedia, pernah diserbu oleh angkatan laut Israel. Insiden tersebut, yang oleh penyelenggara dan Amnesty International disebut sebagai tindakan ilegal, mengakibatkan penangkapan dan pengusiran para anggota kru oleh otoritas Israel.
Jalur Gaza, wilayah yang berada di bawah kendali Hamas, telah hidup di bawah blokade ketat Israel sejak tahun 2007. Situasi semakin diperparah dengan tuduhan saling melanggar gencatan senjata yang baru berlaku pada 10 Oktober 2025, setelah dua tahun konflik sengit. Dalam konteks inilah, aktivis seperti Greta Thunberg sebelumnya telah menyuarakan bahwa ‘Global Sumud Flotilla’ merupakan cerminan dari kegagalan pemerintah dunia dalam menangani krisis kemanusiaan di Gaza, sebuah sentimen yang terus bergema dalam misi terbaru ini.

