Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden penembakan tragis mengguncang sebuah sekolah di Argentina, menewaskan seorang siswa dan melukai delapan lainnya. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Selasa, 31 Maret 2026, di Sekolah Mariano Moreno, kota San Cristobal, Argentina tengah, melibatkan seorang remaja berusia 15 tahun sebagai pelaku.
Menurut laporan AFP yang diterima internationalmedia.co.id, suasana pagi yang seharusnya tenang di Sekolah Mariano Moreno berubah mencekam. Priscila, salah satu siswa yang menjadi saksi mata, menceritakan momen mengerikan itu kepada Radio Con Vos. "Saya sedang naik ke atas, dan ketika hendak turun, beberapa siswa melihat seorang anak laki-laki keluar dari kamar mandi membawa pistol dan mulai berteriak," ujarnya. "Dia kemudian mulai menembak ke udara, dan kami semua langsung berlarian keluar."

Insiden ini terjadi saat para siswa bersiap untuk upacara pengibaran bendera nasional, sebuah rutinitas harian sebelum pelajaran dimulai di kota berpenduduk sekitar 16.000 jiwa tersebut. Kementerian Kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa enam siswa mengalami luka ringan saat berusaha menyelamatkan diri dan kini dalam kondisi aman. Sementara itu, dua siswa lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Regional Rafaela, salah satunya dilaporkan dalam kondisi serius namun stabil. Identitas pelaku dan korban tewas, yang belakangan diketahui bernama Ian, belum dirilis secara resmi pada awal kejadian.
Ramiro Munoz, sekretaris pemerintah San Cristobal, mengungkapkan kepada televisi TN bahwa senjata yang digunakan pelaku "diyakini sebagai senapan." Pasca-kejadian, kegiatan belajar mengajar segera dihentikan dan seluruh siswa dipulangkan. Pihak berwenang bergerak cepat mengamankan pelaku yang kini telah ditangkap.
Pablo Cococcioni, Menteri Kehakiman dan Keamanan provinsi, menyampaikan duka mendalam atas peristiwa ini. "Ini adalah momen yang sangat, sangat menyedihkan dan sangat mengejutkan. Di atas segalanya, kami ingin menyampaikan dukungan kami kepada keluarga Ian, pemuda yang kehilangan nyawanya hari ini," katanya dalam konferensi pers.
Mengenai tersangka pelaku, Cococcioni menjelaskan bahwa remaja tersebut "tidak memiliki catatan kriminal; kami tidak punya alasan untuk campur tangan selama seluruh karier sekolahnya." Namun, ia menambahkan bahwa pelaku "sedang mengalami situasi keluarga pribadi yang sangat kompleks," yang mengindikasikan bahwa "ini bukan konflik yang terkait dengan sekolah." Ini adalah sesuatu yang "benar-benar luar biasa, sesuatu yang tidak pernah kami duga," tambahnya, menyoroti kesulitan memahami insiden semacam ini di lingkungan pendidikan.
Argentina sendiri pernah mencatat beberapa insiden penembakan di sekolah sebelumnya, termasuk pembunuhan seorang siswa di Rafael Calzada pada tahun 2000 dan tiga siswa pada tahun 2004 di Carmen de Patagones, keduanya di provinsi Buenos Aires. Namun, setiap kejadian tetap meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan besar tentang keamanan di lingkungan pendidikan.

