Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat (AS) secara serius mempertimbangkan operasi darat terhadap Iran. Menanggapi ancaman yang menggantung ini, Teheran menegaskan tidak akan gentar, bahkan siap menyambutnya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, militer Iran secara terang-terangan menyatakan bahwa pasukan AS akan menjadi "santapan lezat bagi hiu-hiu di Teluk Persia".
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia pada militer Iran, dalam pernyataan terbarunya menegaskan bahwa pasukan Iran siap untuk merespons dengan tegas jika ancaman Presiden AS Donald Trump, soal operasi darat, terwujud. Zolfaqari lebih lanjut menggarisbawahi bahwa pasukan Iran "sedang menghitung mundur momen" untuk melumpuhkan agresor AS jika serangan darat atau upaya pendudukan benar-benar dilancarkan.

Ia menyoroti ancaman berulang Presiden AS Donald Trump terkait operasi darat dan pendudukan pulau-pulau strategis di Teluk Persia. Menurutnya, ambisi semacam itu "hanyalah ilusi belaka". Militer Iran, kata Zolfaqari, telah lama menanti kesempatan untuk membuktikan bahwa "agresi dan pendudukan tidak akan berujung pada apa pun selain penawanan yang memalukan, cacat fisik, dan hilangnya nyawa para agresor".
Pernyataan tegas dari Iran ini muncul di tengah laporan media terkemuka AS, The Washington Post, yang mengindikasikan Pentagon sedang mempersiapkan skenario operasi darat di Iran. Operasi ini diperkirakan akan berlangsung selama beberapa minggu jika serangan udara sebelumnya gagal mencapai sasaran. Namun, keputusan akhir untuk melancarkan invasi ini masih berada di tangan Presiden Trump.
Potensi invasi darat ini semakin menguat menyusul perintah Pentagon untuk mengerahkan 10.000 tentara yang telah terlatih khusus untuk operasi semacam itu. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.500 personel AS telah tiba di kawasan Timur Tengah, termasuk kontingen 2.200 Marinir. Gelombang pasukan tambahan lainnya dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju wilayah tersebut.
Sebagai respons, Iran telah secara signifikan memperkuat posisi pertahanannya di seluruh penjuru negeri, khususnya di sepanjang perbatasan barat daya yang strategis dengan Irak – sebuah wilayah yang juga menjadi markas pangkalan militer AS – serta di area tenggara yang berdekatan dengan Selat Hormuz.
Dalam penutup pernyataannya, Zolfaqari tidak segan-segan mengecam keras Presiden Trump, menjulukinya sebagai "pembohong terbesar di antara para pemimpin dunia" dan sosok yang "sama sekali tidak dapat diandalkan". Ia bahkan menuduh Trump telah menyeret pasukan AS ke dalam "rawa kematian" yang tak terhindarkan.

