Internationalmedia.co.id – News – Sebuah malam penuh ketegangan menyelimuti Bandara Internasional Baghdad, Irak, ketika pusat diplomatik dan logistik Amerika Serikat (AS) menjadi sasaran delapan serangan terpisah dalam semalam. Insiden ini menandai babak baru dalam serangkaian target AS yang berulang kali diserang di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Serangan yang berlangsung hingga menjelang subuh pada Sabtu (21/3) hingga Minggu (22/3) dini hari tersebut, menurut sumber keamanan Irak yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah, melibatkan penggunaan roket dan drone. Beberapa proyektil dilaporkan mendarat di area dekat pangkalan, memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut. Sumber polisi lainnya bahkan menemukan peluncur roket di distrik sekitar bandara, mengindikasikan serangan yang terkoordinasi.

Kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran diyakini berada di balik gelombang serangan ini. Gerakan yang menamakan diri Perlawanan Islam di Irak secara spesifik mengklaim bertanggung jawab pada Minggu pagi, menyebutkan 21 serangan drone dan roket dalam 24 jam terakhir terhadap "pangkalan penjajah" di Irak dan kawasan Timur Tengah. Tuntutan utama mereka adalah penarikan penuh pasukan AS dari wilayah tersebut.
Menariknya, di tengah rentetan serangan ini, Kedutaan Besar AS di Baghdad tidak menjadi sasaran untuk malam keempat berturut-turut. Hal ini menyusul janji bersyarat dari kelompok bersenjata berpengaruh yang didukung Iran, Kataib Hizbullah, pada Kamis (19/3) untuk menghentikan serangan selama lima hari. Meskipun demikian, juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada AFP menegaskan bahwa misi diplomatik mereka di Irak, termasuk konsulat di Kurdistan Irak, tetap beroperasi. "Tim kami di Irak terus meninjau semua tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan personel dan fasilitas pemerintah AS," tambahnya, meski personel berada dalam status "perintah untuk meninggalkan Irak."

