Washington D.C. – Internationalmedia.co.id – News – Di tengah kebuntuan anggaran yang melumpuhkan sebagian pemerintahan dan membuat ribuan personel keamanan bandara tidak bergaji, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman kontroversial. Ia menyatakan siap mengerahkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) untuk mengambil alih tugas keamanan di bandara-bandara AS, sebuah langkah yang disebutnya akan menghadirkan "keamanan yang belum pernah terlihat sebelumnya."
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan ultimatumnya. Ia menulis, jika Partai Demokrat tidak segera menyetujui pendanaan, "Saya akan memindahkan Agen ICE kita yang brilian dan patriotik ke Bandara di mana mereka akan melakukan Keamanan seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya." Tak lama berselang, ia kembali mengunggah pesan provokatif: "Saya berharap dapat memindahkan ICE pada hari Senin, dan telah memberi tahu mereka untuk, ‘BERSIAPLAH.’" Pernyataan ini sontak memicu perdebatan sengit.

Ancaman Trump ini muncul tak lama setelah taipan teknologi Elon Musk membuat tawaran mengejutkan. Musk secara terbuka menyatakan kesediaannya untuk menanggung gaji ribuan personel Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) yang telah bekerja tanpa bayaran sejak pertengahan Februari, akibat penutupan sebagian pemerintahan AS.
Krisis pendanaan ini telah memaksa sekitar 65.000 karyawan TSA, yang bertanggung jawab memeriksa penumpang, bagasi, dan kargo, untuk tetap bertugas tanpa menerima gaji. Situasi ini semakin diperparah dengan meningkatnya volume perjalanan musim semi, menempatkan tekanan besar pada sistem keamanan bandara. Badan di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) ini diperkirakan memiliki anggaran gaji tahunan antara $2,5 miliar hingga $3 miliar.
Melalui platform X, Musk menyatakan, "Saya ingin menawarkan untuk membayar gaji personel TSA selama kebuntuan pendanaan ini yang berdampak negatif pada kehidupan begitu banyak warga Amerika di bandara di seluruh negeri." Sebuah gestur yang disambut baik namun belum menyelesaikan akar masalah.
Namun, jalan menuju solusi terhambat oleh penolakan Partai Demokrat di Kongres. Mereka menolak menyetujui pendanaan baru untuk DHS, kecuali ada perubahan signifikan dalam prosedur operasi ICE. Tuntutan Demokrat mencakup pengurangan patroli, larangan penggunaan masker wajah oleh agen, serta kewajiban bagi agen ICE untuk memperoleh surat perintah pengadilan sebelum memasuki properti pribadi, menyusul serangkaian konfrontasi kekerasan yang terekam dalam video media sosial.
Meskipun ICE juga berada di bawah naungan Departemen Keamanan Dalam Negeri, badan penegak hukum imigrasi ini masih dapat mempertahankan operasionalnya berkat dana yang telah disetujui Kongres pada tahun sebelumnya.
Dampak krisis ini sangat terasa. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) melaporkan lebih dari 300 karyawan TSA telah mengundurkan diri sejak penutupan parsial pemerintah dimulai pada 14 Februari. Angka ketidakhadiran tanpa pemberitahuan juga dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat. Para petugas TSA terpaksa mencari pekerjaan sampingan atau bergantung pada sumbangan. Beberapa bandara bahkan berinisiatif mengumpulkan kartu hadiah dan menyediakan bank makanan untuk membantu staf yang kesulitan. Akibatnya, antrean keamanan di sejumlah bandara besar memanjang drastis, memaksa penumpang untuk tiba lebih awal dari jadwal normal.
Johnny Jones, seorang pejabat serikat pekerja AFGE di Dallas, mengungkapkan keprihatinan mendalam. "Banyak karyawan telah melaporkan kepada saya bahwa rekening bank mereka nol atau negatif," katanya kepada USA Today. "Tidak ada dana untuk penitipan anak, tidak ada dana untuk makanan. Mereka hanya ingin tahu mengapa mereka tidak bisa dibayar sementara kita punya uang untuk menembakkan rudal ke negara lain." Keluhan ini mencerminkan frustrasi yang meluas di kalangan staf.
Kontroversi seputar ICE bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada Januari, insiden pembunuhan dua warga AS saat memprotes razia agresif ICE di Minneapolis sempat membuat Trump memecat kepala keamanan dalam negeri saat itu, Kristi Noem. Meskipun demikian, badan penegak hukum imigrasi ini tetap menjadi subjek ketidakpopuleran di kalangan banyak warga AS. Dalam unggahannya, Trump juga tak lupa menyindir negara bagian Minnesota yang dipimpin Demokrat, menyatakan bahwa agen ICE akan "segera menangkap imigran ilegal yang telah ‘benar-benar menghancurkan… Negara Bagian Minnesota yang dulunya hebat.’" Sebuah pernyataan yang menambah panasnya tensi politik.

