Internationalmedia.co.id – News – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan pernah mempertimbangkan rencana drastis untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg di Iran. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz yang strategis.
Menurut laporan media AS Axios, yang dikutip oleh Al Jazeera pada Maret, di masa pemerintahannya, salah satu sumber menyebutkan, "Kita butuh sekitar satu bulan untuk lebih melemahkan Iran dengan serangan, merebut pulau itu, dan kemudian mengendalikan mereka dan menggunakannya untuk negosiasi."

Pulau Kharg sendiri merupakan pusat ekspor minyak utama Iran, menangani sekitar 90% dari total ekspor minyak negara tersebut. Serangan AS dan Israel di pulau ini akan menargetkan instalasi militer. Namun, invasi darat akan menempatkan pasukan AS dalam jangkauan serangan balasan Iran yang signifikan.
Di tengah ketegangan yang digambarkan sebagai "perang melawan Iran", militer AS telah menyetujui pengerahan pasukan tambahan ke wilayah tersebut. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump kepada Axios mengonfirmasi, "Jika [Trump] memutuskan untuk melakukan invasi pantai, itu akan terjadi. Tetapi keputusan itu belum dibuat," terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump juga pernah mengklaim bahwa militer AS telah membombardir target militer di Pulau Kharg. Ia bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pulau tersebut. "Komando Pusat Amerika Serikat melakukan salah satu serangan bom paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, dan benar-benar menghancurkan setiap target MILITER di permata mahkota Iran, Pulau Kharg," tulis Trump di media sosial, seperti dilansir AFP pada Maret.
Menanggapi klaim Trump tersebut, Angkatan Bersenjata Iran memberikan ancaman balasan. Markas Besar Pusat Al-Anbiya pada militer Iran, melalui pernyataan yang dilansir AFP, menegaskan bahwa infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan "segera dihancurkan dan diubah menjadi timbunan abu" jika fasilitas energi Iran diserang. Pernyataan ini dilaporkan oleh kantor berita Fars dan Tasnim sebagai respons langsung terhadap ancaman AS.

