Internationalmedia.co.id – News – Sebuah laporan mengejutkan telah mengungkap bahwa kelompok Hamas mengirimkan surat rahasia kepada Mojtaba Khamenei, figur penting dalam kepemimpinan Iran, di tengah eskalasi konflik antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel. Isi surat ini, yang sangat kontras dengan pernyataan publik Hamas, mengisyaratkan dukungan mendalam dan strategi yang jauh lebih agresif dari dugaan sebelumnya.
Menurut laporan media Israel KAN News, yang juga dikutip oleh The Times of India dan Jerusalem Post pada Selasa (17/3/2026), Hamas sebenarnya mengirimkan dua surat kepada kepemimpinan Iran. Satu surat bersifat publik dan bernada diplomatik, menyerukan Iran untuk tidak menargetkan negara-negara Teluk dalam serangan balasan. Namun, surat kedua, yang bersifat rahasia, menampilkan wajah Hamas yang jauh kurang diplomatis dan lebih militan.

Dalam korespondensi rahasianya, Hamas secara eksplisit mendorong kepemimpinan Iran untuk "mengaktifkan semua front" di seluruh kawasan. Ini termasuk seruan untuk aksi terkoordinasi oleh kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran di Lebanon, Irak, dan Yaman, dengan tujuan utama meningkatkan tekanan terhadap Israel di tengah pertempuran yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Surat tersebut juga menegaskan kesetiaan dan dukungan tak tergoyahkan Hamas kepada kepemimpinan Iran. "Gerakan Hamas hari ini berdiri teguh dengan seluruh kekuatannya di belakang kepemimpinan bijaksana Anda dalam menghadapi anarki ‘Zionis-Amerika’," demikian kutipan dari surat rahasia tersebut. Hamas lebih lanjut menekankan strategi "penyatuan arena," yang diduga merujuk pada koordinasi berbagai front untuk secara bersamaan melawan Israel, dengan keyakinan bahwa "kita akan meraih kemenangan selanjutnya di bawah kepemimpinan Anda."
Tidak hanya itu, Hamas juga melontarkan kritik tajam terhadap negara-negara Arab yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel, menyebut kubu normalisasi sebagai "kubu yang kalah." Sebuah sindiran pedas turut dilayangkan: "Mereka bahkan tidak berani melindungi orang-orang yang berlindung di pangkalan mereka," seolah mengejek negara-negara Teluk yang menjadi lokasi tewasnya tentara AS akibat serangan rudal Iran. Poin krusial lainnya adalah penegasan bahwa Hamas tidak akan menyerahkan senjatanya dalam situasi apa pun, menolak tuntutan berulang yang diajukan AS selama negosiasi gencatan senjata Gaza.
Pengungkapan surat rahasia ini menyoroti kompleksitas strategi Hamas dan aliansinya di Timur Tengah, serta menegaskan posisi mereka yang tidak akan berkompromi dalam konflik regional yang semakin memanas. Ini juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara retorika publik dan agenda strategis yang dijalankan secara tertutup.

