Ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru. Di tengah ancaman serangan dari Amerika Serikat terhadap infrastruktur minyaknya, Iran kini dikabarkan tengah mempertimbangkan sebuah langkah mengejutkan terkait Selat Hormuz. Menurut laporan yang diterima Internationalmedia.co.id – News dari sumber senior di Teheran, Iran berencana mengizinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melintasi jalur vital tersebut, namun dengan satu syarat krusial: transaksi kargo minyak harus dilakukan menggunakan mata uang Yuan Tiongkok. Kabar ini muncul pada Minggu (15/3/2026), di tengah eskalasi konflik regional dan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Pulau Kharg jika pemblokiran terus berlanjut.
Kebijakan ini tentu menjadi sorotan tajam di pasar global. Selama ini, perdagangan minyak internasional didominasi oleh Dolar AS, dengan pengecualian minyak Rusia yang terkena sanksi dan diperdagangkan dalam Rubel atau Yuan. Potensi penggunaan Yuan oleh Iran menandai pergeseran signifikan dalam dinamika keuangan energi dunia. Kekhawatiran pasar terhadap penutupan Selat Hormuz, yang merupakan arteri vital bagi pasokan energi dunia, telah memicu lonjakan harga minyak ke level tertinggi sejak Juli 2022, menambah tekanan ekonomi global.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai dampak pembatasan arus kapal melalui Selat Hormuz terhadap upaya kemanusiaan, terutama di tengah berlanjutnya konflik. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menegaskan, "Ketika kapal berhenti bergerak melalui Selat itu, konsekuensinya menyebar dengan cepat. Makanan, obat-obatan, pupuk, dan persediaan lainnya menjadi lebih sulit untuk dipindahkan dan lebih mahal untuk dikirim." Kondisi ini menggarisbawahi urgensi pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut.
Latar belakang kebijakan baru Iran ini tidak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi. Perang di Iran, yang dipicu oleh serangan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026, telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran sempat mengajukan syarat yang lebih politis bagi kapal-kapal minyak yang ingin melintas: negara asal kapal harus mengusir duta besar AS dan Israel dari wilayah mereka. Kini, syarat tersebut tampaknya telah bergeser ke ranah ekonomi, menawarkan opsi yang berbeda bagi negara-negara yang ingin mengamankan pasokan minyak mereka melalui jalur krusial ini.

