Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya, menjadikan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia, sebagai zona bahaya baru. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Iran secara tegas menutup selat ini pasca-serangan yang diklaim berasal dari Amerika Serikat dan Israel, mengubahnya menjadi ancaman nyata bagi setiap kapal tanker minyak yang melintas. Potensi serangan rudal kini membayangi, menciptakan kengerian yang mendalam di salah satu urat nadi ekonomi global.
Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Alireza Tangsiri, mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa setiap kapal militer AS atau sekutunya yang berani melintasi Selat Hormuz akan dianggap sebagai target sah. Tangsiri juga dengan tegas membantah klaim sebelumnya dari Menteri Energi AS, Chris Wright, yang sempat menyebut Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak di selat tersebut—klaim yang kemudian dihapus dari platform X. "Klaim tentang sebuah kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS sama sekali tidak benar. Setiap pelayaran armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone bunuh diri Iran," tegas Tangsiri, menggarisbawahi keseriusan ancaman Iran.

Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding AS menyebarkan "berita palsu" terkait Selat Hormuz. Menurut Araghchi, tindakan ini bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan global, terutama setelah AS menarik kembali pernyataannya mengenai pengawalan kapal tanker energi oleh salah satu kapal perangnya.
Untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali akses, IRGC mengajukan syarat yang provokatif: negara-negara yang ingin mendapatkan akses tanpa hambatan melintasi Selat Hormuz harus terlebih dahulu mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka. "Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok," demikian pengumuman IRGC pada Senin malam.
Pentingnya Selat Hormuz bagi perekonomian global tak terbantahkan. Jalur perairan strategis ini biasanya menjadi urat nadi bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Namun, data dari perusahaan analisis Kpler melalui platform MarineTraffic menunjukkan dampak yang mengkhawatirkan: lalu lintas kapal tanker di sana anjlok drastis hingga 90 persen hanya dalam satu minggu terakhir, menandakan kelumpuhan signifikan pada rantai pasok energi.
Kengerian di Selat Hormuz bukan sekadar ancaman verbal. Insiden nyata telah terjadi, menimpa kapal kargo Mayuree Naree berbendera Thailand. Pada Rabu pagi, IRGC mengonfirmasi telah menyerang kapal ini, bersama dengan sebuah kapal berbendera Liberia, karena dituduh mengabaikan "peringatan". Kapal Thailand, yang bertolak dari pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab, dihantam proyektil di jalur perairan Teluk, menyebabkan kerusakan parah pada ruang mesin dan memicu kebakaran. Tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di dalam, dengan upaya penyelamatan yang masih terus dilakukan, seperti disampaikan oleh perusahaan transportasi Precious Shipping kepada AFP.
Situasi diperparah dengan munculnya pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang secara langsung memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Setelah absen dari publik karena dikabarkan terluka dalam serangan udara, Khamenei menyampaikan perintah tegasnya. "Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," katanya, merujuk pada jalur yang biasanya dilewati seperempat perdagangan minyak dunia. Lebih jauh, Mojtaba Khamenei, yang ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam gelombang awal serangan AS-Israel, menyerukan balas dendam. Ia juga mendesak negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka, menegaskan, "Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita."
Menanggapi perintah langsung dari pemimpin tertinggi, Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri kembali menegaskan komitmen Iran. Ia menyatakan bahwa pasukannya akan "memberikan pukulan terkeras kepada musuh agresor" seraya mempertahankan strategi penutupan Selat Hormuz. Akibat eskalasi ini, pengiriman di sekitar Selat Hormuz praktis terhenti selama beberapa hari terakhir. Setiap kapal yang nekat mencoba melintas berisiko tinggi menjadi sasaran, mengubah Teluk di lepas pantai Uni Emirat Arab dan Irak menjadi zona konflik yang berbahaya.

