Washington DC โ Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengancam akan melancarkan respons militer yang jauh lebih dahsyat jika Teheran terus menutup Selat Hormuz, jalur maritim vital yang krusial bagi pasokan energi global. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa ancaman ini datang menyusul eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa jika Iran berani menghambat aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan menerima balasan dari Amerika Serikat yang "DUA PULUH KALI LEBIH KERAS" dari apa yang pernah mereka alami sebelumnya. Tidak hanya itu, mantan Presiden AS ini juga bersumpah akan "menghancurkan target-target yang mudah" yang akan membuat Iran "hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara."

Dengan nada yang mengancam, Trump menambahkan, "Kematian, Api, dan Amarah akan menimpa mereka โ Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak akan terjadi!" Pernyataan ini mencerminkan tingkat kemarahan Washington terhadap tindakan Iran yang dianggap mengganggu stabilitas pasar energi internasional.
Trump membingkai ancamannya sebagai upaya untuk melindungi pasar energi global, menyebutnya sebagai "hadiah dari Amerika Serikat kepada Tiongkok, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz." Ia berharap, "isyarat ini akan sangat dihargai," menekankan pentingnya jalur perairan tersebut bagi ekonomi dunia.
Penutupan Selat Hormuz sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari lalu, setelah Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, melancarkan serangan udara berskala besar terhadap Iran. Teheran membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer AS.
Konflik yang memanas sejak akhir Februari itu praktis menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang biasanya menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Menurut data dari perusahaan analisis Kpler, yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut anjlok drastis hingga 90 persen hanya dalam satu minggu.
Situasi ini memicu kekhawatiran global akan krisis energi dan eskalasi militer yang lebih luas di kawasan yang sudah bergejolak. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak dalam konflik yang semakin memanas ini.

