Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangkaian rudal yang diluncurkan Iran dilaporkan menargetkan sebuah pangkalan udara strategis di dekat Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (2/3) waktu setempat. Beruntung, sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat proyektil-proyektil tersebut di langit, mencegah kerusakan fatal. Internationalmedia.co.id – News melaporkan insiden ini sebagai bagian dari eskalasi konflik regional.
Menurut keterangan dari sumber di salah satu negara Teluk yang dikutip AFP, rentetan serangan rudal ini merupakan bagian dari respons Iran terhadap gelombang agresi yang mereka klaim berasal dari Amerika Serikat dan Israel. Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Al Kharj, tenggara Riyadh, yang juga menjadi markas bagi pasukan militer AS di Saudi, menjadi target utama. Sumber tersebut menegaskan, "Upaya penargetan Pangkalan Udang Pangeran Sultan oleh rudal Iran kembali berhasil digagalkan pada Senin pagi." Dua saksi mata di Al Kharj juga mengonfirmasi mendengar suara ledakan keras di angkasa, mengindikasikan keberhasilan pencegatan.

Tak hanya serangan rudal, pada hari yang sama, pertahanan Saudi juga berhasil menangkis dua drone yang diarahkan ke kilang minyak raksasa Ras Tanura, yang berlokasi di wilayah timur. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, menjelaskan bahwa meskipun puing-puing drone yang jatuh sempat memicu kebakaran "kecil", insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil. Ras Tanura sendiri merupakan salah satu fasilitas penyulingan dan ekspor minyak terbesar di dunia, sehingga serangan ini memicu penutupan sementara operasionalnya oleh otoritas Saudi sebagai langkah antisipasi.
Insiden ini menggarisbawahi meningkatnya ketegangan di seluruh kawasan Teluk, di mana tidak hanya Arab Saudi, tetapi juga negara-negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait, turut merasakan dampak dari serangkaian serangan yang diyakini berasal dari Iran. Situasi ini menambah daftar panjang kekhawatiran akan stabilitas regional.

