Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Israel secara terang-terangan mengumumkan bahwa Naim Qassem, salah satu pemimpin senior kelompok Hizbullah, kini menjadi "target eliminasi". Deklarasi mengejutkan ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyusul serangkaian serangan roket dan drone yang dilancarkan Hizbullah ke wilayah Israel.
Menurut laporan Al Arabiya dan Anadolu Agency pada Senin (2/3/2026), langkah Hizbullah yang bersekutu dengan Iran tersebut merupakan balasan atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Israel tidak tinggal diam, segera melancarkan serangan balasan masif ke berbagai target Hizbullah di Lebanon. Katz menegaskan bahwa Hizbullah akan membayar mahal atas provokasi ini.

"Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah, yang memutuskan penyerangan di bawah tekanan dari Iran, mulai sekarang, adalah target yang ditandai untuk dieliminasi," tegas Katz dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan ancaman keras: "Siapa pun yang mengikuti jejak (mendiang Ayatollah Ali) Khamenei akan segera mendapati dirinya bersamanya di kedalaman neraka bersama semua orang yang dieliminasi dari poros kejahatan."
Di sisi lain, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengindikasikan bahwa konflik ini berpotensi panjang. "Kita telah melancarkan kampanye ofensif terhadap Hizbullah," kata Zamir dalam sebuah pernyataan video yang dirilis militer Israel pada Senin (2/3). Ia memperingatkan, "Kita harus bersiap untuk pertempuran selama berhari-hari, bahkan banyak hari."
Dampak dari gempuran Israel telah memakan korban jiwa yang signifikan. National News Agency (NNA) Lebanon, seperti dikutip Al Jazeera, melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan sekitar 149 lainnya terluka. Serangan udara Tel Aviv menghantam area pinggiran selatan Beirut dan wilayah Lebanon bagian selatan, yang dikenal sebagai basis kekuatan Hizbullah.
Eskalasi terbaru ini secara signifikan memperluas cakupan perang yang sudah berlangsung di kawasan tersebut. Konflik yang lebih luas ini sendiri bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat, menciptakan lingkaran kekerasan yang semakin sulit diprediksi dan berpotensi menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran konflik.

