Gelombang protes masif melanda Times Square, jantung Kota New York, Amerika Serikat, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangkaian serangan mematikan terhadap Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, ribuan warga turun ke jalan menuntut penghentian segera segala bentuk agresi militer dan menolak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dengan spanduk dan poster yang memenuhi langit Times Square, para demonstran menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan AS dalam konflik bersenjata baru. Salah satu pesan utama yang terpampang jelas berbunyi, "No new US war in the Middle East" (Jangan ada perang baru AS di Timur Tengah), mencerminkan kekhawatiran mendalam akan terulangnya sejarah kelam di kawasan tersebut.

Layan Fuleihan, Direktur Pendidikan di The People’s Forum New York, dalam orasinya menegaskan bahwa Iran bukanlah ancaman nyata bagi Amerika Serikat. Ia mengingatkan publik agar tidak lagi terperdaya oleh narasi serupa yang pernah memicu konflik dua dekade lalu. "Amerika Serikat memiliki ribuan hulu ledak nuklir yang siap diluncurkan, namun Iran bukan ancaman. Kita tidak akan tertipu dengan kebohongan yang sama seperti 20 tahun lalu," tegas Fuleihan, menyoroti perbedaan kekuatan militer dan menepis klaim ancaman dari Teheran.
Sebelumnya, Wali Kota New York, Zohran Mamdani, juga telah melontarkan kecaman keras terhadap keputusan Presiden Trump menyerang Iran. Dalam sebuah acara di Brooklyn, Mamdani menyebut langkah tersebut sebagai "eskalasi bencana dalam tindakan perang agresi ilegal" yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mamdani menekankan bahwa rakyat Amerika menginginkan perdamaian dan solusi nyata untuk masalah domestik, seperti krisis keterjangkauan perumahan, bukan terlibat dalam perang demi perubahan rezim di negara lain. "Membom kota-kota, membunuh warga sipil, membuka medan perang baru, rakyat Amerika tidak menginginkan ini. Rakyat Amerika tidak menginginkan perang lain dalam upaya perubahan rezim. Kami menginginkan solusi untuk krisis keterjangkauan perumahan. Kami menginginkan perdamaian," ujarnya, menyuarakan aspirasi mayoritas warga.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu (28/2) tersebut dilaporkan telah menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketegangan yang semakin memanas di kawasan tersebut.
