Internationalmedia.co.id – News – Sejumlah negara di kawasan Teluk Arab yang menjadi markas bagi pasukan militer Amerika Serikat (AS) dilanda serangkaian ledakan dahsyat pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Insiden ini mencakup Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Kuwait, yang semuanya melaporkan kejadian serupa tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, memicu spekulasi mengenai aksi balasan.
Di Bahrain, pusat layanan Armada Kelima Angkatan Laut AS di ibu kota Manama dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal. Kantor berita Bahrain News Agency, yang juga dikutip oleh CNN dan The Guardian, mengonfirmasi insiden ini. Secara terpisah, kantor berita Iran, Fars, menyebutkan serangan rudal telah menargetkan pangkalan AS di Bahrain. Bahrain dikenal sebagai sekutu penting AS di Teluk Persia dan merupakan tuan rumah tetap bagi markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS. Video yang beredar menunjukkan kepulan asap membumbung tinggi dari arah pangkalan Angkatan Laut AS tersebut. Seorang pejabat AS, yang dikutip oleh CNN, mengklaim pangkalan itu diserang oleh rudal Iran.

Sementara itu, warga di Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan mendengar suara ledakan keras di ibu kota Abu Dhabi. Kejadian ini terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Abu Dhabi sendiri merupakan lokasi pangkalan yang menampung personel militer AS. Sebagai langkah pencegahan, otoritas UEA telah mengumumkan penutupan wilayah udara "untuk sementara dan untuk sebagian," seperti dilansir AFP.
Situasi serupa juga terjadi di Qatar. Para pejabat setempat melaporkan bahwa dua rudal Iran berhasil dicegat saat melintasi wilayah udaranya. Serangan rudal ini diduga kuat sebagai respons balasan dari Teheran atas serangan udara yang dilancarkan AS bersama Israel. Jurnalis AFP di Qatar juga melaporkan bahwa rentetan ledakan terdengar jelas di area ibu kota Doha.
Tidak hanya itu, laporan dari The Guardian juga menyebutkan serangkaian ledakan turut mengguncang wilayah Kuwait. Negara ini juga menampung sejumlah pangkalan militer AS, dengan perkiraan sebanyak 13.500 tentara AS ditempatkan di sana. Rentetan insiden ini menambah ketegangan di kawasan Teluk, mengindikasikan eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan regional dan global.

