Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya pada Sabtu lalu ketika Iran melancarkan rentetan rudal ke wilayah Israel. Serangan ini merupakan respons langsung terhadap gempuran yang dilancarkan Tel Aviv ke Teheran dan sejumlah area lainnya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, militer Israel segera mendeteksi ancaman tersebut, memicu sirene peringatan serangan udara di berbagai kota dan wilayah.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) mengonfirmasi pengerahan sistem pertahanan udara untuk mencegat proyektil-proyektil yang datang. "Beberapa saat yang lalu, sirene berbunyi di beberapa wilayah di seluruh negara ini menyusul terdeteksinya sejumlah rudal yang diluncurkan dari Iran menuju Negara Israel," demikian pernyataan resmi IDF, seperti dikutip dari laporan AFP dan The Guardian pada Sabtu (28/2). Mereka menambahkan, "Sistem pertahanan beroperasi untuk mencegat ancaman tersebut." Sementara itu, Angkatan Udara Israel (IAF) juga dikerahkan untuk melakukan intersepsi dan serangan balasan jika dianggap perlu, guna menghilangkan ancaman tersebut.

Situasi darurat ini juga mendorong Komando Garis Depan untuk mengirimkan arahan pencegahan langsung melalui pesan singkat ke telepon seluler warga di area-area terdampak, mengimbau mereka untuk segera mencari perlindungan. Langkah ini menunjukkan keseriusan ancaman yang dihadapi Israel.
Serangan rudal Iran ini terjadi setelah Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan "serangan pendahuluan" terhadap Iran. Laporan dari televisi terkemuka Israel, KAN, yang mengutip seorang pejabat Israel, menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan "situs-situs rezim dan militer, termasuk rudal balistik" Iran.
Menyikapi eskalasi ini, otoritas Israel segera menutup wilayah udara dan menetapkan keadaan darurat di seluruh wilayahnya. Sirene peringatan juga sempat terdengar di area Yerusalem, dengan berbagai wilayah Israel menerima peringatan serius mengenai ancaman yang "sangat serius". Perlu dicatat, serangan udara Israel yang memicu balasan ini dilancarkan secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat, mengindikasikan dukungan internasional dalam operasi tersebut.

