Sebuah gelombang kecaman internasional melanda Israel setelah serangkaian langkah kontroversialnya di Tepi Barat yang diduduki. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, 18 negara dari berbagai benua secara serentak mengecam keras upaya Israel untuk memperketat cengkeramannya atas wilayah tersebut, yang mereka nilai sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan Palestina.
Pemerintah Israel, didorong oleh menteri-menteri sayap kanan, baru-baru ini menyetujui inisiatif yang memicu kemarahan global. Langkah-langkah tersebut mencakup dimulainya proses pendaftaran tanah di Tepi Barat sebagai "milik negara" dan pemberian izin bagi warga Israel untuk membeli tanah di sana secara langsung. Selain itu, perluasan permukiman di wilayah yang diduduki sejak 1967 ini juga dipercepat, dengan persetujuan 52 permukiman baru pada tahun 2025.

Dalam sebuah pernyataan bersama yang dirilis pada Selasa (24/2/2026), ke-18 negara tersebut menegaskan bahwa tindakan Israel adalah "bagian dari arah yang jelas yang bertujuan untuk mengubah realitas di lapangan dan melakukan aneksasi de facto yang tidak dapat diterima". Mereka menambahkan, langkah-langkah ini merupakan "serangan yang disengaja dan langsung terhadap kelangsungan negara Palestina serta implementasi solusi dua negara".
Dukungan terhadap pernyataan ini datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk negara-negara regional berpengaruh seperti Arab Saudi dan Mesir, serta kekuatan Eropa seperti Prancis dan Spanyol. Indonesia, Brasil, dan Turki juga turut menandatangani kecaman tersebut. Tak hanya itu, Sekretaris Jenderal Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Otoritas Palestina juga menyatakan dukungan penuh.
Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak tahun 1967, merupakan rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina. Di sisi lain, lebih dari 500.000 warga Israel juga menetap di permukiman dan pos terdepan di wilayah tersebut, yang secara luas dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional. Kebijakan perluasan permukiman ini telah menjadi sumber ketegangan yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Kecaman kolektif dari begitu banyak negara ini menggarisbawahi kekhawatiran global yang mendalam terhadap masa depan Tepi Barat dan prospek perdamaian di Timur Tengah, menuntut perhatian serius dari komunitas internasional.

