Kecemasan mendalam menyelimuti ibu kota Iran, Teheran, di mana warga seperti Hamid mengaku sulit memejamkan mata akibat ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa bayang-bayang konflik bersenjata menghantui kota ini, membangkitkan trauma dari insiden masa lalu.
Hamid, seorang warga Teheran, mengungkapkan kepada AFP pada Minggu (22/2/2026) bahwa ia "tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, bahkan setelah minum obat." Kekhawatiran terbesarnya tertuju pada kesehatan dan masa depan anak-anak serta cucu-cucunya. "Saya telah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum melakukan hal baik apa pun dalam hidup mereka, mereka tidak bersenang-senang, tidak nyaman, tidak memiliki waktu luang, dan tidak memiliki kedamaian," ujarnya. "Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu."

Situasi ini bukan tanpa preseden. Teheran pernah dikejutkan oleh serangkaian ledakan pada malam hari tanggal 12 hingga 13 Juni tahun lalu. Saat itu, musuh bebuyutan Iran, Israel, melancarkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, memicu saling serang yang brutal. Serangan tersebut mendorong Iran untuk merespons dengan drone dan rudal, mengakibatkan ribuan korban jiwa di Iran dan puluhan di Israel.
Kini, Iran kembali terlibat dalam pembicaraan dengan AS, meskipun dengan agenda yang berbeda. Teheran bersikeras agar dialog hanya berfokus pada isu nuklir, sementara Washington mendesak pembahasan program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan itu. Hasil diplomasi ini masih belum pasti, menambah lapisan ketidakpastian. Sebelumnya, pada Kamis, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras, menyatakan "hal-hal buruk" akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjang menjadi 15 hari.
Kecemasan serupa juga dirasakan oleh warga lainnya. Hanieh, seorang perajin keramik berusia 31 tahun dari Teheran, bahkan memperkirakan perang akan pecah "dalam 10 hari." Ia telah menyimpan beberapa kebutuhan pokok di rumahnya sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan militer dari Amerika Serikat, menyusul peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut. "Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir," katanya kepada AFP. "Kami harus pergi ke kota lain."
Mina Ahmadvand (46), seorang teknisi IT, juga memiliki pandangan yang sama tentang inevitabilitas konflik. "Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu," ujarnya kepada AFP. Ia telah membeli selusin makanan kaleng, termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan, beberapa bungkus biskuit, air minum kemasan, serta beberapa baterai tambahan.
Di tengah bayang-bayang sejarah konflik dan ketidakpastian diplomasi, warga Teheran hidup dalam ketegangan yang konstan. Harapan akan kedamaian berbenturan dengan realitas ancaman yang membayangi, membuat tidur nyenyak menjadi kemewahan yang sulit diraih.

