Internationalmedia.co.id – News โ Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Pernyataan ini muncul di tengah peningkatan drastis kekuatan angkatan laut AS di kawasan tersebut, sebuah langkah yang ditujukan untuk menekan Teheran agar menyepakati pembatasan program nuklirnya.
Pernyataan mengejutkan Trump ini muncul menyusul pengumuman Menteri Luar Negeri Iran yang menyatakan bahwa draf proposal kesepakatan dengan Washington akan rampung dalam beberapa hari ke depan. Perkembangan ini terjadi setelah serangkaian negosiasi antara kedua belah pihak yang berlangsung di Jenewa awal pekan ini.

Sebelumnya, Trump telah memberikan sinyal keras pada Kamis lalu (19/2), mengisyaratkan "hal-hal buruk" akan terjadi jika Teheran gagal mencapai kesepakatan dalam kurun waktu yang awalnya 10 hari, kemudian diperpanjang menjadi 15 hari. Saat ditanya oleh seorang reporter pada Jumat (20/2) apakah ia tengah mempertimbangkan serangan militer terbatas, Trump dengan lugas menjawab, "Yang paling bisa saya katakan โ saya sedang mempertimbangkannya."
Pasca-pembicaraan di Jenewa, Teheran mengonfirmasi bahwa kedua pihak telah sepakat untuk menyusun draf perjanjian potensial. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kepada media AS mengungkapkan keyakinannya bahwa draf tersebut akan "siap dalam dua atau tiga hari ke depan" setelah konfirmasi akhir dari atasannya, sebelum diserahkan kepada Steve Witkoff, negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.
Araghchi juga menegaskan bahwa negosiator AS tidak meminta Teheran untuk menghentikan program pengayaan nuklirnya, sebuah pernyataan yang bertentangan dengan klaim dari para pejabat Amerika. "Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta nol pengayaan," ujar Araghchi dalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat (20/2) oleh jaringan TV AS, MS NOW.
Ia menambahkan, "Yang sedang kita bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya." Namun, komentar ini berlawanan dengan informasi yang disampaikan oleh para pejabat tinggi AS, termasuk Presiden Trump sendiri, yang berulang kali menyatakan bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk memperkaya uranium pada tingkat berapa pun. Negara-negara Barat menuduh Republik Islam itu berupaya memperoleh senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran, meskipun bersikeras pada haknya untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil.
Di sisi lain, Iran sangat berupaya untuk menegosiasikan penghentian sanksi-sanksi Barat yang terbukti sangat menghambat laju perekonomiannya. Kesulitan ekonomi tersebut telah memicu gelombang protes pada Desember lalu, yang kemudian meluas menjadi gerakan anti-pemerintah berskala nasional pada bulan berikutnya. Aksi demonstrasi besar-besaran itu berujung pada tindakan keras dari otoritas Iran, yang menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia, menyebabkan ribuan korban jiwa.

