Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi gelombang desakan mundur yang kian membesar, namun ia bersikeras menolak untuk menyerah dari jabatannya. Tekanan ini muncul setelah penunjukannya terhadap Peter Mandelson sebagai duta besar AS, yang diketahui memiliki keterkaitan dengan pelaku kejahatan seksual terpidana, Jeffrey Epstein. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Starmer menegaskan komitmennya untuk memimpin, meskipun badai kritik menerpa Downing Street.
Dalam pertemuan penting dengan anggota parlemen Partai Buruh, Starmer disambut dengan tepuk tangan saat ia dengan tegas menyatakan, "Setelah berjuang begitu keras untuk kesempatan mengubah negara kita, saya tidak siap untuk meninggalkan mandat dan tanggung jawab saya." Ia melanjutkan dengan nada menantang, bersikeras bahwa ia telah "memenangkan setiap pertarungan yang pernah saya ikuti," sebuah pernyataan yang menggarisbawahi tekadnya untuk tetap menjabat, demikian dilansir AFP.

Namun, desakan agar Starmer mundur semakin menguat. Pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, secara terbuka meminta Starmer untuk mengundurkan diri. Sarwar menyoroti penunjukan Peter Mandelson, yang meskipun diketahui memiliki hubungan dengan Jeffrey Epstein, tetap ditunjuk sebagai duta besar AS. "Gangguan ini harus diakhiri, dan kepemimpinan di Downing Street harus berubah," kata Sarwar dalam konferensi pers di Glasgow, menjadikannya politisi Partai Buruh paling senior yang secara terang-terangan mendesak Starmer untuk mundur.
Situasi ini diperparah dengan serangkaian pengunduran diri di lingkaran dalam Starmer. Kepala Komunikasi Kantor PM Inggris, Tim Allan, baru-baru ini mengundurkan diri, menyatakan tidak sanggup menghadapi tekanan yang terus-menerus terkait skandal Epstein. Pengunduran diri Allan terjadi kurang dari 24 jam setelah Kepala Staf PM Inggris, Morgan McSweeney, juga lebih dulu melepaskan jabatannya. Allan menjelaskan keputusannya, "Saya telah memutuskan untuk mengundurkan diri agar tim baru di Downing Street dapat dibentuk," seperti yang dilaporkan AFP.
Skandal Jeffrey Epstein, yang melibatkan tokoh-tokoh penting dan jaringan kejahatan seksual global, terus menjadi sorotan tajam. Keterkaitan nama-nama di sekitar PM Starmer dengan Epstein telah menciptakan krisis kepercayaan yang signifikan, mengancam stabilitas pemerintahannya. Dengan Starmer yang bergeming pada posisinya, dan tekanan yang terus meningkat dari dalam partainya sendiri, masa depan kepemimpinan di Inggris kini berada di persimpangan jalan yang krusial.

