Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Rusia secara tegas menyatakan kesiapan penuhnya untuk menghadapi realitas baru di dunia tanpa adanya batasan yang mengikat untuk pengendalian senjata nuklir. Pernyataan ini muncul seiring dengan dijadwalkan berakhirnya perjanjian New START antara Moskow dan Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini. Situasi ini menandai potensi pergeseran paradigma signifikan dalam lanskap keamanan global yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Perjanjian New START, sebuah pilar penting dalam upaya non-proliferasi nuklir, ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan Presiden AS Barack Obama. Kecuali kedua negara adidaya nuklir ini mencapai kesepahaman bilateral pada menit-menit terakhir, perjanjian tersebut akan berakhir masa berlakunya pada 5 Februari mendatang. Tanpa New START, dunia akan menyaksikan dua kekuatan nuklir terbesar di dunia beroperasi tanpa batasan yang mengikat, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Hingga saat ini, Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump belum memberikan respons konkret terhadap usulan Moskow untuk memperpanjang pembatasan yang diatur dalam perjanjian tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, yang dikenal sebagai juru bicara Kremlin untuk isu pengendalian senjata, menanggapi kondisi ini dengan lugas. "Tidak adanya jawaban juga merupakan jawaban," kata Ryabkov, merujuk pada kebisuan AS.
Dalam pernyataannya yang disampaikan di tengah kunjungan ke Beijing, Ryabkov menegaskan bahwa Moskow siap untuk realitas baru di mana Rusia dan AS, sebagai dua kekuatan nuklir utama, tidak lagi memiliki batasan yang mengikat. Ini adalah sebuah skenario yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Sebelumnya, Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia – sebuah badan berpengaruh yang setara dengan politbiro modern di bawah kepemimpinan langsung Presiden Vladimir Putin – telah melontarkan peringatan serius mengenai potensi bahaya jika perjanjian ini dibiarkan berakhir. "Meskipun tidak serta-merta berarti bencana atau dimulainya perang nuklir, situasi ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi semua pihak," ujarnya kepada Reuters.
Presiden Trump sendiri sebelumnya telah mengindikasikan bahwa dirinya akan membiarkan perjanjian pembatasan nuklir tersebut berakhir. Ia menolak tawaran dari Rusia untuk secara sukarela memperpanjang batasan penempatan senjata nuklir strategis – jenis senjata ampuh dengan jangkauan jauh dan daya ledak tinggi. Amerika Serikat juga telah menyarankan agar Tiongkok, sebagai kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia, bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata, namun Beijing tidak menunjukkan keinginan untuk berpartisipasi.
Ryabkov, dalam kesempatan yang sama, menegaskan dukungan Rusia terhadap posisi Tiongkok mengenai isu pengendalian senjata. Sementara itu, Presiden Trump, dalam sebuah wawancara dengan New York Times bulan lalu, terkesan tidak terlalu memusingkan berakhirnya perjanjian New START. "Jika berakhir, ya berakhir… Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik dari itu," cetusnya.
Untuk informasi lebih lanjut dan tayangan video terkait, kunjungi internationalmedia.co.id.

