Washington DC โ Sebuah fakta mengejutkan kembali terkuak dari tumpukan dokumen yang baru-baru ini dirilis oleh Amerika Serikat. Mendiang Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seksual sekaligus mantan pemodal berpengaruh di AS, ternyata pernah menerima kiriman potongan kain suci Kiswah dari Ka’bah. Informasi ini, yang diungkap dalam serangkaian email publik, menambah daftar panjang misteri seputar kehidupan gelap Epstein. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pengiriman artefak religius yang memiliki makna mendalam bagi umat Muslim ini terjadi pada tahun 2017.
Detail pengiriman Kiswah ini muncul ke permukaan melalui korespondensi email yang dibocorkan oleh Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1) pekan lalu. Menurut laporan Middle East Eye, email-email tertanggal Februari dan Maret 2017 itu mengindikasikan adanya pengaturan pengiriman dari Mekah, Arab Saudi, ke AS yang difasilitasi oleh seorang kontak yang terafiliasi dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Dalam korespondensi tersebut, terungkap peran Aziza al-Ahmadi, seorang pengusaha wanita berkewarganegaraan Saudi yang berbasis di UEA, bersama dengan Abdullah al-Maari. Keduanya berkoordinasi untuk mengirimkan tiga potongan kain yang berkaitan dengan Kiswah โ selubung hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah, pusat ibadah paling suci bagi umat Islam di Mekah. Kiswah sendiri adalah simbol keagamaan yang sarat makna, diganti setiap tahun dan potongan lamanya diperlakukan sebagai relik berharga.
Proses pengiriman dilakukan melalui kargo udara dari Arab Saudi menuju Florida, AS, menggunakan maskapai British Airways. Email-email tersebut merinci koordinasi yang kompleks, mulai dari faktur, pengaturan bea cukai, hingga pengiriman lokal di Amerika Serikat. Tiga potongan kain yang dikirimkan terdiri dari satu bagian dari interior Ka’bah, satu potongan kain penutup luar yang sudah pernah digunakan, dan satu potongan lain yang terbuat dari bahan serupa namun belum pernah dipakai.
Menariknya, potongan kain yang belum terpakai itu digunakan untuk mengklasifikasikan pengiriman kargo sebagai ‘karya seni’ demi memudahkan proses bea cukai. Kiriman berharga ini akhirnya tiba di kediaman Epstein pada Maret 2017. Dalam salah satu emailnya, Ahmadi secara eksplisit menyampaikan kepada Epstein tentang makna spiritual yang mendalam dari kain tersebut. Ia menulis, "Potongan kain hitam itu telah disentuh oleh setidaknya 10 juta umat Muslim dari berbagai denominasi, Sunni, Syiah, dan lainnya. Mereka berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, kemudian setiap orang berusaha sebisa mungkin untuk menyentuhnya dan mereka menyimpan doa, harapan, air mata, dan keinginan mereka pada potongan ini. Berharap setelah itu semua doa mereka akan diterima."
Hingga kini, korespondensi email tersebut tidak memberikan penjelasan mengenai bagaimana Aziza al-Ahmadi mengenal Jeffrey Epstein, maupun motivasi di balik pengiriman artefak suci ini kepadanya. Pihak Kerajaan Arab Saudi sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan yang menghebohkan ini.
Jeffrey Epstein sendiri, yang namanya tercatat sebagai pelaku kejahatan seks, ditemukan tewas gantung diri di sel penjaranya pada tahun 2019. Kematiannya terjadi saat ia menanti persidangan atas tuduhan perdagangan seks, dan meskipun secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, insiden tersebut telah memicu berbagai teori konspirasi selama bertahun-tahun. Penemuan baru ini semakin memperdalam misteri seputar Epstein, terutama setelah memo FBI yang dirilis pada Jumat (30/1) malam juga mengungkapkan bahwa ia pernah bekerja sama dengan intelijen AS dan Israel. Memo tersebut bahkan menyebutkan bahwa Epstein memiliki kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan pernah dilatih sebagai mata-mata di bawah pengawasannya.

