Ketegangan di Timur Tengah kian memuncak setelah militer Iran secara resmi mengumumkan penambahan seribu unit drone tempur baru ke dalam arsenalnya. Bersamaan dengan peningkatan kekuatan ini, Panglima Militer Iran bersumpah akan melancarkan respons yang menghancurkan terhadap setiap potensi agresi. Situasi ini semakin panas mengingat Amerika Serikat baru saja mengerahkan armada militernya ke perairan strategis di kawasan tersebut. Informasi ini dihimpun oleh Internationalmedia.co.id – News.
Panglima Militer Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa mempertahankan dan meningkatkan superioritas strategis untuk pertempuran cepat serta memberikan respons yang menghancurkan terhadap invasi apa pun adalah prioritas utama dalam agenda militer negaranya. Pernyataan ini, seperti dikutip oleh televisi pemerintah Iran dan dilansir oleh kantor berita AFP pada Kamis (29/1/2026), mengindikasikan kesiapan Iran menghadapi ancaman yang ada.

Pernyataan keras dari Teheran ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa "armada" militer AS lainnya sedang dalam perjalanan menuju Iran. Pengumuman Trump ini menyusul konfirmasi dari militer AS mengenai kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah.
Kendati demikian, dalam nada yang kontradiktif, Trump juga menyatakan harapannya agar Teheran dapat mencapai kesepakatan dengan Washington di tengah eskalasi ketegangan. "Ada armada indah lainnya yang berlayar dengan anggun menuju Iran saat ini," ujar Trump dalam pidatonya pada Selasa (27/1) waktu setempat, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai "armada lainnya" yang ia maksud. Ia menambahkan, "Saya harap mereka mencapai kesepakatan."
Sinyal beragam mengenai intervensi militer dari Trump ini telah muncul sejak awal bulan, menyusul tindakan keras Iran terhadap para demonstran yang memprotes pemerintah, yang berujung pada pemadaman internet secara total. Bagi para penentang kepemimpinan ulama di Iran, intervensi militer AS seringkali dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mewujudkan perubahan di Teheran.
Faktanya, pada awal bulan ini, Trump sempat hampir memerintahkan serangan terhadap target rezim di Iran sebagai respons atas pembunuhan ribuan demonstran di negara tersebut, namun ia menunda keputusan tersebut sembari tetap mengerahkan aset-aset militer AS ke kawasan. Pengerahan yang dimaksud mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, yang tiba di wilayah tanggung jawab Pusat Komando AS (CENTCOM) di Timur Tengah pada Senin (26/1). Kapal induk ini didampingi oleh tiga kapal perang yang dilengkapi rudal Tomahawk, serta sejumlah jet tempur F-15 dan jet tempur siluman F-35.
Dalam sebuah wawancara dengan Axios, Trump bahkan menyebut pengerahan aset militer di dekat Iran kali ini lebih masif dibandingkan dengan pengerahan yang pernah dilakukan AS di sekitar Venezuela, yang kala itu berujung pada penggulingan dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Situasi di Timur Tengah kini berada di ujung tanduk, dengan kedua belah pihak menunjukkan peningkatan kekuatan dan retorika yang semakin memanas.

