Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah menyatakan kesiapannya untuk berhadapan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam sebuah pertemuan yang direncanakan pada 1 Februari mendatang. Langkah ini diambil sebagai upaya krusial untuk membahas rencana perdamaian 20 poin yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha dalam wawancara dengan European Pravda, yang dipublikasikan pada Selasa (28/1).
Sybiha menjelaskan bahwa Ukraina bertekad untuk menandatangani kesepakatan perdamaian yang telah dirundingkan sejak November tahun lalu, asalkan poin-poin krusial dapat disepakati. Dua isu paling sensitif yang hingga kini masih menjadi ganjalan adalah sengketa wilayah serta status operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.

"Justru untuk menyelesaikan persoalan-persoalan inilah presiden siap bertemu dengan Putin dan membahasnya secara langsung," tegas Sybiha. Ia menambahkan bahwa tidak ada urgensi untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, mengingat pembentukan jalur perundingan tambahan dinilai tidak tepat waktu dan tidak diperlukan. Sybiha menekankan bahwa tim perunding resmi yang melibatkan perwakilan Kementerian Luar Negeri Ukraina sudah ada dan berfungsi.
Perkembangan positif juga terlihat dari perundingan antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pekan lalu. Sybiha mengonfirmasi adanya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik, yang memungkinkan berlangsungnya pertemuan trilateral tersebut. Ia menggambarkan pembicaraan bilateral di Abu Dhabi sebagai negosiasi yang sangat kompleks namun terfokus.
Selain itu, Sybiha mengungkapkan adanya jalur negosiasi terpisah yang melibatkan perwakilan militer dari kedua belah pihak. Dalam pertemuan tersebut, parameter gencatan senjata, termasuk mekanisme pemantauan dan verifikasi penghentian permusuhan, dibahas secara substansial. Dokumen kerangka kerja 20 poin yang sedang dibahas, menurut Sybiha, merupakan kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Ukraina, di mana AS juga akan menandatangani kesepakatan terpisah dengan Rusia. "Struktur inilah yang saat ini sedang dibahas, namun negosiasi masih terus berjalan. Ini adalah sebuah proses," jelasnya.
Pada Senin (27/1), Zelenskyy dalam pidato malamnya telah mengisyaratkan adanya pembahasan awal untuk pertemuan lanjutan antara delegasi Ukraina dan Rusia, yang diperkirakan akan digelar pada 1 Februari. Senada, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada hari yang sama mengatakan putaran berikutnya perundingan perdamaian Rusia-Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat direncanakan berlangsung pekan depan di Abu Dhabi, meski tanpa menyebutkan tanggal pasti.
Sebelumnya, Rusia dan Ukraina telah mengadakan konsultasi selama dua hari pada 23-24 Januari di Abu Dhabi dengan partisipasi Amerika Serikat. Kyiv dan Washington menyebut perundingan tersebut berlangsung konstruktif, sementara Peskov menyatakan bahwa meskipun pembicaraan dimulai secara positif, masih terdapat pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff pada Kamis lalu di Davos, Swiss, juga menggarisbawahi bahwa banyak kemajuan telah dicapai dalam perundingan perdamaian Rusia-Ukraina, dan kini negosiasi menyisakan satu isu terakhir yang perlu diselesaikan.

