Internationalmedia.co.id – Pemerintah Inggris meradang menyusul komentar kontroversial mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meremehkan peran tentara NATO, khususnya Inggris, dalam pertempuran di Afghanistan. Pernyataan Trump ini dinilai tidak menghormati pengorbanan ratusan tentara Inggris yang gugur di medan perang.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim bahwa pasukan NATO, termasuk Inggris, "agak di belakang, sedikit di luar garis depan" selama operasi di Afghanistan. Pernyataan ini sontak memicu kecaman keras dari berbagai pihak di Inggris.

Menteri Kesehatan Inggris, Stephen Kinnock, menyatakan kekecewaannya atas komentar Trump yang "jelas salah" dan "sangat mengecewakan." Ia menegaskan bahwa Perdana Menteri Keir Starmer akan mengangkat masalah ini langsung dengan Trump. Kinnock menekankan bahwa Pasal 5 NATO diaktifkan untuk membantu Amerika Serikat setelah serangan 11 September, dan banyak tentara Inggris serta sekutu NATO lainnya telah mengorbankan nyawa mereka untuk mendukung misi pimpinan AS di Afghanistan dan Irak.
Emily Thornberry, Ketua Komite Urusan Luar Negeri parlemen Inggris, menyebut komentar Trump sebagai "penghinaan mutlak" terhadap 457 keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka di Afghanistan. Ia mempertanyakan keberanian Trump yang meremehkan peran penting tentara Inggris di garis depan pertempuran.
Menurut data resmi pemerintah Inggris, 405 dari 457 tentara Inggris yang tewas di Afghanistan gugur dalam aksi militer melawan musuh. Amerika Serikat sendiri kehilangan lebih dari 2.400 tentara dalam konflik tersebut. Pernyataan Trump ini dinilai tidak hanya meremehkan pengorbanan tentara Inggris, tetapi juga mengabaikan fakta sejarah tentang keterlibatan aktif pasukan NATO dalam perang di Afghanistan.
