Internationalmedia.co.id – News, Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyatakan keheranannya atas langkah Israel mengakui Somaliland, sebuah wilayah separatis di Somalia. Mohamud menyebut keputusan tersebut sebagai tindakan tak terduga dan janggal yang berpotensi membawa dampak serius bagi warga Palestina di Gaza serta stabilitas di Tanduk Afrika.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera dari Istanbul, Turki, pada Kamis (1/1/2026), Mohamud menyoroti fakta bahwa Somaliland telah mengklaim kemerdekaan selama lebih dari tiga dekade tanpa pengakuan dari negara mana pun di dunia. "Kami telah berupaya menyatukan kembali negara ini melalui jalur damai. Setelah 34 tahun, sangat mengejutkan dan ganjil bahwa Israel, secara tiba-tiba, ikut campur dan menyatakan, ‘Kami mengakui Somaliland’," ujar Mohamud, seperti dikutip oleh internationalmedia.co.id.

Ia menegaskan bahwa pengakuan tersebut bukan sekadar isyarat diplomatik biasa, melainkan sebuah dalih untuk tujuan strategis Israel yang spesifik dan berisiko tinggi. Pekan lalu, Israel menjadi satu-satunya negara yang secara resmi mengakui Somaliland, wilayah di barat laut Somalia yang berbatasan dengan Teluk Aden.
Pemimpin Somalia itu menduga bahwa Israel berencana menggunakan pengakuan ini sebagai cara untuk memaksa pengungsi Palestina ke Somalia. Menurutnya, langkah Israel ini akan membuka "kotak kejahatan" di dunia dan merupakan upaya Israel untuk mengalihkan permasalahannya di Gaza ke Tanduk Afrika. "Israel tidak memiliki niat damai untuk datang ke Somalia. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya, dan seluruh dunia, terutama negara-negara Arab dan Muslim, harus melihatnya sebagai ancaman serius," kata Mohamud.
Berdasarkan intelijen Somalia, Mohamud mengungkapkan bahwa Somaliland telah menerima tiga syarat dari Israel sebagai imbalan atas pengakuan tersebut: pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pantai Teluk Aden, dan bergabungnya Somaliland ke dalam Perjanjian Abraham. Perjanjian Abraham adalah serangkaian pakta yang menormalisasi hubungan antara Israel dengan beberapa negara Arab seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Mohamud menambahkan bahwa intelijen Somalia juga menunjukkan adanya kehadiran Israel di Somaliland, sehingga pengakuan ini hanyalah normalisasi dari apa yang sudah terjadi secara diam-diam.
Pada Selasa (30/12/2025) lalu, Mohamud berada di Turki dan mengadakan konferensi pers bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kedua pemimpin tersebut memperingatkan bahwa pengakuan Israel terhadap wilayah separatis itu dapat menggoyahkan stabilitas Tanduk Afrika.
Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991, namun gagal mendapatkan pengakuan dari negara anggota PBB mana pun hingga pengakuan Israel pekan lalu. Langkah Israel ini kemudian menuai kecaman dari berbagai negara, termasuk sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan darurat di New York awal pekan lalu. Indonesia juga secara tegas menolak pengakuan Israel tersebut.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya anggota dari 15 kursi Dewan Keamanan yang membela langkah Israel, meskipun mereka menekankan bahwa posisi AS mengenai Somaliland tetap tidak berubah. Menanggapi posisi AS yang dianggap ambigu, Mohamud menolaknya dan menyatakan bahwa Washington telah memperjelas kebijakannya. "Kami menilai Amerika Serikat berdasarkan apa yang mereka katakan. Itu cukup jelas, mereka mendukung kedaulatan Somalia dan menjauhkan diri dari Israel (dalam masalah ini)," tegasnya.
Dalam wawancara tersebut, Mohamud juga membahas kekhawatiran bahwa kelompok bersenjata al-Shabab mungkin akan memanfaatkan sentimen anti-Israel untuk meningkatkan perekrutan anggota baru. Kelompok tersebut baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengutuk langkah Israel dan mengancam akan menargetkan setiap kehadiran Israel di wilayah tersebut.
Mohamud menepis retorika al-Shabab, menyebutnya sebagai proksi al-Qaeda yang tidak memiliki kepentingan sejati dalam kedaulatan Somalia. "Merekalah yang membuat Somalia lemah, itulah sebabnya Israel mencoba datang ke sini sekarang. Biarkan mereka menghentikan terorisme dan berdamai, daripada mengklaim membela Somalia melawan Israel," jelasnya.
Ia kemudian menyinggung rekam jejak pemerintahannya dalam melawan al-Shabab, mengungkit keberhasilan merebut wilayah baru-baru ini dari kelompok tersebut dan penyelenggaraan pemilihan umum langsung pertama sejak 1969. Ini menjadi bukti bahwa negaranya bergerak menuju stabilitas meskipun ada tekanan eksternal. "Somalia berada dalam situasi unik selama dua tahun terakhir. Sudah saatnya Somalia keluar dari situasi tersebut," pungkasnya.
