International Media

Minggu, 2 Oktober 2022

Minggu, 2 Oktober 2022

Warga Tionghoa Kota Semarang Gelar Tradisi Ceng Beng

Sejumlah warga Tionghoa sedang melakukan ziarah kubur (Ceng Beng).

SEMARANG–Tak hanya umat Islam yang melakukan ziarah kubur saat menjelang bulan suci Ramadhan, warga Tionghoa di Kota Semarang juga melakukan tradisi tersebut.

Tradisi berdoa di makam leluhur tersebut disebut oleh warga Tionghoa dengan nama Ceng Beng.

          Menurut salah seorang tokoh Tionghoa Kota Semarang Harjanto Kusuma Halim pelaksanaan Ceng Beng pada pertengahan musim semi.

          “Kebetulan pelaksanaan Ceng Beng bertepatan pada Ramadan tahun ini yang dilaksanakan pada bulan April,” kata Harjanto Kusuma Halim.

          Dia menambahkan tradisi Ceng Beng dilakukan turun temurun oleh warga Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau di Kota Semarang, Ceng Beng sudah mulai ditinggalkan dan cenderung lebih sepi dibandingkan saat Imlek,” jelasnya.

          Menurutnya, meski demikian warga Tionghoa di daerah lain masih mempertahankan tradisi tersebut.

          “Seperti di Sumatera dan Kalimatan. Biasanya ramai, saat warga Tionghoa melakukan Ceng Beng, seperti saat Imlek,” ujar Harjanto Kusuma Halim.

          Dikatakannya, tradisi Ceng Beng bermakna napak tilas untuk menghormati jasa para leluhur. Dalam pelaksanaannya, warga Tionghoa membawa berbagai hidangan ke makam leluhur.

          “Kalau sekarang sudah bebas membawa makanan apa saja, yang penting layak dimakan. Tapi dulu ada persyaratan khusus, tidak sembarang makanan dibawa dalam tradisi Ceng Beng,” imbuhnya.

          Selain makam leluhur di Kota Semarang, warga Tionghoa Kota Semarang juga berencana mengunjungi makam Abdurahman Wahid. “Ziarah kubur ke makam Gus Dur juga menjadi tradisi Ceng Beng. Dan akan kami laksanakan April ini,” tambahnya. idn/din

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga