Wali Kota Perintahkan Pagar Beton yang Tutup Akses Rumah Dibongkar

Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah

TANGERANG- Kisah mengenai akses keluar-masuk rumah Hadiyanti (60), warga Ciledug, Kota Tangerang, yang ditutup pagar beton 2 meter ramai bergulir di publik. Pemkot Tangerang turun tangan dan meminta pagar beton itu dibongkar.

“Sudah diinstruksikan ke Asda 1 (Asisten Daerah) dan Kasatpol PP untuk segera bongkar pagar betonnya,” ujar Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah, dalam keterangannya, Senin (15/3).

Arief mengatakan Hadiyanti dan keluarganya kesulitan untuk keluar atau masuk ke rumah akibat pagar beton itu. Namun, belum dijelaskan kapan tembok yang menutup rumah Hadiyanti di Jalan Akasia RT 04/03, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, dibongkar.

Asisten Tata Pemerintahan Kota Tangerang, Ivan Yudhianto menambahkan keputusan pembongkaran tembok ini diambil lantaran mediasi yang dilakukan tidak menemui titik temu. Selain itu, sambung Ivan, dari hasil peninjauan lapangan didapati bidang tanah yang menjadi polemik telah tercatat sebagai jalan.

“Pihak yang mengaku memiliki tanah tidak hadir dan tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan lahan. Pada sertifikat tanah sebagaimana disampaikan BPN bahwa tanah tersebut adalah jalan,” terang Ivan.

Dihubungi terpisah, Camat Ciledug, Syarifuddin mengatakan pihaknya akan menunggu terlebih dahulu agar orang yang mengklaim sebagai pemilik tanah melakukan pembongkaran sendiri. Syarifuddin tak menjelaskan sampai kapan deadline agar pemilik tanah mau melakukan pembongkaran sendiri.

“Kita usahakan (agar pemilik tanah yang mengklaim) bongkar sendiri tapi kalau nggak dibongkar, kita pemerintah (yang) bongkar,” ucap Syarifuddin.

Belum Miliki

Surat Ahli Waris

Ruli selaku pendiri dinding mengaku bahwa ia bukan ahli waris seperti yang dimaksud Syarifuddin. Pasalnya, saat ditanya terkait surat ahli waris, Ruli mengaku bahwa ia tidak memiliki surat tersebut.

“Saya saja enggak berani ngaku kalau saya pewarisnya tanah itu. Karena, saya enggak punya akte surat ahli waris, nanti saya salah,” papar Ruli ketika ditemui, Minggu (14/3). Tanah tersebut, kata Ruli, adalah milik ayahnya, yaitu Anas Burhan, yang telah meninggal. Ruli belum memiliki surat ahli waris atas tanah tersebut lantaran ia masih memiliki tiga saudara kandung lainnya.

“Saya berempat masih hidup. Kita enggak pernah bikin akte waris. Jadi, saya engga bisa buktikan saya pemilik tanah itu,” papar Ruli. “Tanah itu atas nama ayah saya (Anas Burhan),” imbuh dia. Meski demikian, Ruli menyatakan bahwa tanah ayahnya itu memiliki akta jual beli (AJB).
“Yang jalan itu AJB,” kata Ruli.

Dengan alasan itu, ia lantas mendirikan dua dinding di atas tanah tersebut pada 2019. Akhirnya Ruli menutup total akses salah satu bangunan yang dilewati tembok tersebut, yakni gedung milik seseorang bernama Munir (kini telah meninggal) pada 21 Februari 2021. Alasannya, kata dia, sebagian dinding yang ia bangun sengaja dirobohkan pihak keluarga Munir. Ada pun pihak keluarga Munir sempat menyatakan bahwa sebagian tembok yang dibangun Ruli telah hancur karena banjir. “Posisi (sebagian dinding) robohnya ke depan. Air (menerjang) dari depan, masa robohnya ke depan,” ungkap dia.

“Harusnya ke belakang, (soalnya) kedorong air, (sehingga posisi jatuhnya) arah ke rumah,” imbuhnya. Usai dinding tersebut hancur, Ruli bertanya kepada pihak keluarga Munir perihal hancurnya sebagian tembok miliknya. Pihak keluarga Munir kemudian mengatakan bahwa sebagian dinding itu hancur karena banjir.

Lantas, Ruli tak dapat menerima alasan tersebut. “Saya tanya (ke pihak keluarga Munir), ‘Siapa yang robohin?’. Enggak ada yang mau ngaku. Enggak bagus jadi tetangga gitu,” kata dia. Ruli menambahkan, ia telah memberikan akses jalan di depan kediaman milik Munir usai Ruli mendirikan tembok pada 2019. “Udah dikasih jalan sini, minta jalan sana. Sehingga pagar (dinding beton) saya dirobohin,” ucapnya. ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp