Vaksin AstraZeneca Timbulkan Pembekuan Darah?

Vaksin AstraZeneca

JAKARTA – Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), memberikan rekomendasi suspend (menangguhkan) penggunaan vaksin AstraZeneca. Sebab, beberapa negara sudah menghentikan penyuntikan vaksin Covid-19 AstraZeneca setelah adanya laporan pembekuan darah usai vaksinasi.

Bahkan, European Medicines Agency (EMA) mengatakan, penghentian ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan karena belum bisa dipastikan hubungan antara vaksin dengan pembekuan darah.

Hindra menegaskan, jika kejadian KIPI yang lebih tinggi dibandingkan ketika uji klinis fase 1, fase 2, dan fase 3, seperti vaksin AstraZeneca yang dilaporkan beberapa negara terjadi pembekuan darah pasca vaksinasi, maka bisa diberikan rekomendasi suspend, tunda atau penghentian. Untuk AstraZeneca saat ini, kata Hindra, Komnas KIPI memberikan rekomendasi suspend.

“Nah kalau proporsinya (kejadian KIPI) di masyarakat Indonesia lebih tinggi daripada fase 1, fase 2, fase 3, oh Komnas KIPI memberikan rekomendasi suspend ya, kayak di AstraZeneca itu ya. Atau (rekomendasi) tunda, atau hentikan,” katanya dalam dialog secara virtual, Selasa (16/3/2021).

Namun begitu, Hindra mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan setiap hari.

“Namun, kita tetap memantau tiap hari. Laporan kan masuk tiap hari, kita lihat. Kalau angkanya, proporsinya masih sesuai fase 1, fase 2, fase 3 dan sama dengan negara-negara lain, ya kan artinya masih aman,” tuturnya.

Hindra menegaskan, kejadian KIPI setelah vaksinasi Covid-19 ada yang ekstrem ada yang sedang. Tetapi dia menegaskan bahwa kejadian KIPI yang ekstrem jarang sekali. “(KIPI) ada yang ekstrem nah jarang sekali. Proporsinya kecil sekali. Kalau yang besar tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, jadi tidak diperhatikan nah fokus ke yang jarang-jarang itu,” ungkapnya.

Bahkan, kata Hindra, kejadian ikutan pasca vaksinasi Covid-19 terus dipantau sesuai dengan pedoan dari World Health Organization (WHO. Khusus di Indonesia, ada 14 rumah sakit yang dijadikan sebagai tempat pemantauan KIPI.

“Namun bukan berarti tidak diperhatikan atau tidak dikaji ya. Karena tentu karena ini vaksin baru tentu ada pedoman dari WHO, ada kejadian ikutan dengan perhatian khusus. Nah itu harus kita selama setahun ini, di 14 rumah sakit dipantau. Jadi dipantau ini yang jarang-jarang, yang fase 1, fase 2, fase 3 ada listnya kan. Nah itu kita lihat,” katanya.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp