Usai Ditahan, Pangeran Hamzah Bersumpah Setia kepada Raja Yordania

AMMAN – Pangeran Hamzah bin Hussein , mantan putra mahkota Yordania , bersumpah setia kepada Raja Abdullah II setelah dia ditahan atas tuduhan merencanakan kudeta.

Pihak istana mengatakan sumpah setia disampaikan Pangeran Hamzah ketika raja menerima mediasi atas keretakan dalam keluarga kerajaan.

Pemerintah Kerajaan Yordania menuduh Hamzah, yang sejatinya juga saudara tiri Raja Abdullah II, melakukan plot jahat dan terlibat dalam konspirasi yang menghasut untuk mengacaukan keamanan kerajaan. Plot jahat itu merupakan istilah yang lebih halus untuk menggambarkan upaya kudeta.

Hamzah, yang ditahan bersama dengan setidaknya 16 orang lainnya, sebelumnya melontarkan nada menantang dengan mengatakan dia telah ditempatkan di bawah tahanan rumah di dalam istananya di Amman, tetapi bersikeras dia tidak akan mematuhi perintah yang membatasi pergerakannya.

Namun dalam meredakan kekacauan istana, pangeran berusia 41 tahun itu berjanji mendukung Raja Abdullah II.

“Saya akan tetap setia pada warisan leluhur saya, berjalan di jalan mereka, setia pada jalan mereka dan pesan mereka dan kepada Yang Mulia,” katanya dalam sebuah surat yang ditandatanganinya, yang dipublikasikan istana.

“Saya akan selalu siap membantu dan mendukung Yang Mulia Raja dan Putra

Mahkota,” lanjut surat tersebut, seperti dikutip AFP, Selasa (6/4).

Pernyataan sumpah setia Pangeran Hamzah muncul tak lama setelah istana mengatakan Raja Abdullah II setuju bermediasi untuk penanganan masalah terkait Pangeran Hamzah dalam kerangka keluarga Hashemite.

Pekerjaan mediator diserahkan kepada paman Raja Abdullah II, Pangeran Hassan, yang juga merupakan mantan putra mahkota tahun 1965-1999.

Hamzah—yang dicopot gelar putra mahkotanya oleh Raja Abdullah II pada tahun 2004—telah muncul sebagai kritikus vokal di kerajaan itu. Dia menuduh kepemimpinan Yordania melakukan korupsi, nepotisme, dan pemerintahan otoriter.

Dalam sebuah video yang dia kirimkan ke BBC pada hari Sabtu, dia melontarkan kecaman atas ketidakmampuan pemerintah.”Ketidakmampuan yang telah lazim dalam struktur pemerintahan kita selama 15 sampai 20 tahun terakhir dan semakin parah,” katanya dalam video itu.

“Tidak ada yang bisa berbicara atau mengungkapkan pendapat tentang apa pun tanpa ditindas, ditangkap, dilecehkan dan diancam,” ujarnya.

Hamzah membantah terlibat dalam apa yang disebut plot jahat, tetapi mengatakan komunikasi telepon dan internetnya diputus oleh kepala staf angkatan bersenjata Yordania, Jenderal Youssef Huneiti.

Dalam rekaman yang dirilis hari Minggu, Hamzah berkata: “Ketika ketua kepala staf gabungan datang dan memberi tahu Anda ini… Saya pikir itu agak tidak dapat diterima”.

“Saya merekam apa yang dia katakan dan mengirimkannya ke teman-teman saya di luar negeri dan ke keluarga saya, jika terjadi sesuatu,” paparnya.

Raja Abdullah II, 59, awalnya menunjuk Pangeran Hamzah sebagai putra mahkota pada 1999, sejalan dengan keinginan ayah mereka yang saat itu sekarat. Namun, Raja Abdullah II mencabut gelar itu dan menyerahkannya kepada putranya sendiri Pangeran Hussein.

Ibu Pangeran Hamzah, Ratu Noor yang kelahiran Amerika Serikat, membela putranya. Dalam tweet-nya dia menulis; “Saya berdoa agar kebenaran dan keadilan berlaku bagi semua korban tak bersalah dari fitnah jahat ini.”

Analis Ahmad Awad mengatakan peristiwa yang bergejolak itu adalah yang pertama bagi Kerajaan Yordania.

“Ini adalah awal dari krisis dan bukan akhir,” kata Awad, kepala lembaga penelitian Phenix Center for Economic and Informatics di Amman. “Ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk reformasi politik, ekonomi dan demokrasi.”

Krisis itu telah memperlihatkan perpecahan di negara yang biasanya dilihat sebagai benteng stabilitas di Timur Tengah.

Washington, kekuatan utama Teluk, Mesir dan Liga Arab semuanya telah menjanjikan dukungan untuk Raja Abdullah II. Pesan serupa datang dari Rusia pada hari Senin. ***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp