Ubah Pola Transportasi Masyarakat Urban, BPTJ Kemenhub Kampanyekan Gerakan Jalan Hijau

Sekjen Kemenkes Oscar Primadi (ketiga kiri) didampingi Kepala BPTJ Polana B Pramesti (paling kanan) dan Sekretaris BPTJ Rosita Sinaga (paling kiri) berfoto bersama usai memberikan Jalan Hijau Achievement Award 2021.

JAKARTA–Pola dan kebiasaan hidup bertransportasi menggunakan kendaraan pribadi ternyata berkorelasi langsung dengan permasalahan kesehatan dan kualitas hidup.

Kebiasaan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari membuat masyarakat cenderung kurang bergerak.

Akibatnya, masyarakat urban mudah dihinggapi penyakit non infeksi misalnya diabetes, stroke, jantung.

Dampak lain dominannya penggunaan kenderaan pribadi adalah semakin memburuknya kualitas udara.

Padahal dengan beralih menggunakan angkutan umum massal dan pemanfaatan berjalan kaki serta bersepeda selain akan berdampak positif terhadap kesehatan pribadi juga akan membuat kondisi udara yang lebih bersih dan ramah lingkungan. 

“Untuk itulah kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Kesehatan atas sinerginya dalam Gerakan Jalan Hijau. Program Kemenkes yaitu Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat secara substantif sejalan dengan Gerakan Jalan Hijau. Gerakan Jalan Hijau ini secara langsung maupun tidak langsung juga dapat mendukung Germas, sehingga kami berharap kerjasama diantara dua sektor ini dapat terus berlangsung di masa mendatang,” ujar Kepala BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) Polana B. Pramesti saat acara Virtual Event Kampanye Jalan Hijau Achievement Award 2021 di Jakarta, Selasa (20/4).

Hadir dalam Virtual Event Kampanye Jalan Hijau Sekretaris Jenderal Kemenkes drg. Oscar Primadi.

Dalam sambutannya Oscar Primadi menyambut baik ajakan BPTJ Kementerian Perhubungan untuk bersinergi dan berkolaborasi mengkampanyekan Gerakan Jalan Hijau.

Menurutnya, hasil Riskesdas Tahun 2018 menunjukkan ketidakaktifan fisik di Indonesia meningkat menjadi 33,5% seiring dengan peningkatan angka obesitas menjadi 21,8%.

Ketidakaktifan fisik memicu peningkatan kejadian penyakit tidak menular.

Prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia pada tahun 2018 juga meningkat, diantaranya kanker meningkat dari 1,4% menjadi 1,8%, diabetes meningkat dari 1,5% menjadi 2,0%, stroke meningkat dari 7,0% menjadi 10,9% dan hipertensi 8,4%. Ketidakaktifan fisik akan memicu masalah kesehatan masyarakat yang lebih besar.

Pada kesempatan yang sama Polana juga mengatakan, seandainya masyarakat mau mengubah pola transportasinya dari naik kendaraan pribadi beralih menggunakan angkutan umum massal dan pemanfaatan berjalan kaki serta bersepeda / Non-Motorized Transportation (NMT) atau yang disebut sebagai Gerakan Jalan Hijau bukan hanya akan membuat ancaman berbagai penyakit non infeksi bisa diminimalisir, tetapi juga menciptakan kondisi ramah lingkungan yang secara langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat urban di Jabodetabek.

“Karena itulah, agar Gerakan Kampanye Jalan Hijau lebih mudah diterima publik, BPTJ memandang perlu untuk mensinergikannya dengan isu-isu publik lainnya seperti isu kesehatan yang erat kaitannya dengan permasalahan transportasi perkotaan,” ujar Polana. 

Kualitas hidup masyarat Jabodetabek, kata Polana,  memang sangat terkait dengan kualitas udara. Data menyebut kualitas udara Jakarta dan daerah sekitarnya cenderung buruk bahkan beberapa kali menempati ranking atas dibanding kota-kota lain di dunia. Sementara itu transportasi menyumbang sekitar 40 % atas buruknya kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya.

Dengan semakin banyak masyarakat Jabodetabek yang berpindah ke angkutan umum massal dan memanfaatkan non motorized transportation secara langsung ikut berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya. ***

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp