Tuchel: Tak Ada Tim yang Mau Lawan Chelsea di Perempatfinal

Pemain Chelsea saat menyingkirkan Atletico Madrid (Ft ist).

LONDON Chelsea  lolos ke babak perempatfinal Liga Champions, setelah menyingkirkan Atletico Madrid. Pada leg kedua babak 16 besar, di Stamford Bridge, London, Kamis (18/3) dinihari WIB, The Blues  menang 2-0 lewat gol  Hakim Ziyech pada menit ke-34 dan Emerson Palmieri di masa injury time.

Hasil  lolos dengan agregat 3-0. N’Golo Kante dkk menjadi wakil Inggris ketiga yang lolos ke delapan besar, setelah Liverpool dan Manchester City. Keberhasilan Chelsea ini memberikan sinyal menakutkan kepada para peserta final.

Sorotan tentu tertuju pada Thomas Tuchel, yang masih menjaga Chelsea terus tampil gemilang dan tak terkalahkan sejak ia tangani. Total, manajer 47 tahun itu sudah melewatkan 13 laga tanpa ternoda kekalahan di Chelsea.

Tuchel, yang menggantikan Frank Lampard pada akhir Januari, melakoni debutnya dengan menghadapi Wolverhampton Wanderers. Laga berkesudahan 1-1 ketika itu.

Setelahnya, Timo Werner dkk bisa menjaga laju tak terkalahkannya, sampai terakhir menumbangkan Atletico. Jika dirinci, Chelsea mengemas 9 kemenangan dan 4 hasil imbang.

Tuchel pun menjadi manajer Chelsea pertama yang bisa melewatkan 13 pertandingan perdananya tak terkalahkan. Eks pelatih Mainz, Borussia Dortmund, dan Paris Saint-Germain itu melewati catatan Maurizio Sarri dan Felipe Scolari, yang cuma bisa tak terkalahkan di 12 laga.

Selain rekor belum terkalahkan, Tuchel juga membuat Chelsea juga menjadi begitu tangguh dalam segi bertahan. Chelsea mampu membuat 15 gol dan cuma kebobolan dua kali, alias sudah 11 kali menuntaskan laga dengan clean sheet.

Tuchel sendiri  menyanjung penampilan skuadnya. Menurutnya, Kai Havertz dkk bisa tampil solid sejauh ini, sehingga bisa mengemas kemenangan demi kemenangan untuk Chelsea.

“Para pemain bermain dengan ikatan khusus, dan hasil seperti ini memberi Anda keunggulan dan perekat tertentu untuk mencapai hal-hal khusus. Anda hanya dapat melakukannya dengan suasana khusus. Saya cukup yakin, tidak ada yang mau bermain melawan kami di delapan besar. Ini akan menjadi langkah besar tetapi kami tidak perlu takut,” ujar manajer asal Jerman itu di situs resmi UEFA.

Yang mendapat perhatian dalam laga itu adalah N’Golo Kante. Ia mampu menjadi tembok pertahanan pertama Chelsea. Kante menjelajahi setiap area pertahanan  timnyademi menyapu aliran bola Atletico Madrid.

Kante tercatat melakukan 13 kali ball recoveries yang merupakan terbanyak di laga itu. Tak cuma itu, Kante beberapa kali juga menusuk kotak penalti lawan.

Khususnya di gol kedua Chelsea, Kante juga ikut terlibat. Lewat situasi serangan balik setelah tendangan sudut Atletico di area Chelsea dipatahkan, Christian Pulisic berlari menggiring bola dari tengah.

Kante, berlari di sebelah kanannya dan mampu mengecohkan dua bek Atletico. Pulisic lantas mengoper ke kiri, ke Emerson yang lebih bebas tak terkawal. Nama terakhir, mampu menceploskan bola.

Bagi Tuchel, walau Kante sudah mendekati usia 30 tahun tapi fisik dan staminanya masih kuat betul. “Kante memberikan intensitas yang luar biasa. Senang bisa melatihnya, dia sangat rendah hati dan sangat membantu di lapangan. Dia adalah anugerah terbesar untuk tim ini dengan penuh kualitas. Penampilannya bersama Mateo Kovacic sungguh bisa diandalkan,” ujar Tuchel.

Sementara pelatih Atletico, Diego Simeonemengakui kalau  Chelsea lebih baik di segala lini dibanding timnya. “Mereka hanya lebih baik dari kami, saya tidak bisa bilang apa-apa lagi. Kami mencoba bermain dengan empat pemain teratas di babak pertama dan menekan mereka ketika mereka bermain di belakang. Kami tidak bisa merampok bola tinggi-tinggi seperti yang kami inginkan,” ujarnya seperti dilansir dari situs resmi UEFA. (Vitus)

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp