Tidak Terawat, Terminal Baranangsiang Diklaim Lebih Seram dari Kuburan

Kondisi Terminal Baranangsiang, Kota Bogor tampak tidak terawat dan kumuh.

BOGOR- Kondisi Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, kini memprihatinkan dan lebih seram dibanding kuburan. Sudut-sudut terminal bersejarah yang dibangun sejak 1974 itu kini sudah jauh dari kesan nyaman. Bahkan terbilang kumuh.

Tak hanya itu, rusaknya sejumlah fasilitas membuat terminal yang sem­pat berjaya pada 1990-an, dengan predikat terminal terbaik di Indonesia itu, kian kusam.

Mulai dari kotornya sarana dan prasarana, jalanan berlubang yang menyebabkan kubangan, hingga terdapat kawasan suram dalam terminal.

Ketua Komunitas Pengurus Terminal Baranangsiang (KPTB), Teddy Irawan menuturkan, tidak terurusnya terminal lantaran saat ini kewenangan diambil pemerintah pusat.

“Puluhan tahun kondisi kumuh dibiarkan, dibanding pasar tradisional terminal Baranangsiang memprihatinkan. Lebih seram dari kuburan,” kata Teddy, Selasa (6/4).

Teddy sebetulnya menyambut baik bila terminal akan dilakukan revitalisasi. Di sisi lain, Teddy juga meminta pemerintah pusat yang kini memegang hak pengelolaan Terminal Baranangsiang merealisasikan wacana revitalisasi secara jelas.

“Jika ditanya setuju? capek jawabnya. Wacana sejak 2012 tapi tidak pernah jelas, tidak pernah dilibatkan dalam setiap perencaan. Padahal, kami di sini sudah puluhan tahun, mulai dari sopir, kernet, pedagang, hingga asongan,” paparnya.

Salah satu pedagang kaki lima (PKL), Sobri menjelaskan, bila siang hari terminal panas lantaran atap ruang tunggu terbuat dari fiber rontok ditiup angin. Plafon pun jebol termakan usia.

Malam hari, penerangan minim. Bahkan nyaris gelap karena lampu penerangan hanya ada di sisi luar, sedangkan dalam terminal gelap karena jaringan listrik terputus dan bola lampu hilang.

“Penderitaan bertambah ketika hujan. Selain tidak ada tempat berteduh. Jalan rute bus berlombang mirip kubangan,” kata Sobri.

Salah satu penumpang, Damayanti (33) mengaku selalu naik bus di bibir pintu keluar daripada di dalam terminal. Kesan seram karena kumuh dan rawan kejahatan.

“Saya biasa setop bus di sini (luar), kalo di dalem serem. Takut dicopet atau ditodong,” katanya.

Yanti yang setiap hari berangkat ke Jatibening dari Bogor berharap kondisi terminal lebih diperhatikan agar lebih nyaman dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya lokasi transportasi. ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp