Teten Sebut UMKM Digital Produktif Kunci Pemulihan Ekonomi

Teten Masduki. (Ft ist)

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki optimis sejumlah sektor ekonomi Indonesa bakal berangsur membaik, terutama sektor UMKM. Hal ini  mengingat peran teknologi digital sebagai kunci pengembangan UMKM.

Hasil survei World Bank 2021 menunjukkan, 74,1 persen pelaku usaha mengandalkan penjualan online sebagai pendapatan utama, dengan 51 persen di antaranya adalah reseller.

“Kita harus terus optimis, berbagai survei menunjukkan adanya indikasi perbaikan belanja masyarakat di awal 2021. UMKM digital produktif merupakan kunci pemulihan ekonomi,” kata Teten, dalam keterangannya,  Senin (19/4).

Teten mengungkapkan, peningkatan kapasitas UMKM dapat dilaksanakan melalui penguatan database, peningkatan kualitas SDM, dan pengembangan Kawasan/klaster terpadu UMKM.

Sementara untuk perluasan pasar, bisa dilakukan dengan Kampanye Bangga Buatan Indonesia (BBI), onboarding platform pengadaan barang dan jasa (LKPP, PaDI), Live Shopping, Sistem Informasi Ekspor UMKM, hingga penyediaan ruang 30 persen infrastruktur publik bagi UMKM.

 “Ini menjadi fokus kita bagaimana meningkatkan UMKM produsen dalam ekosistem digital. Produk UMKM kuliner Indonesia sangat beragam dan kreatif, ditambah lagi dukungan sektor pertanian Indonesia yang sangat kaya,”  kata Teten.

Sementara dalam pengembangan kewirausahaan, pemerintah tengah menyusun Rancangan Perpres Pengembangan Kewirausahaan Nasional sekaligus turunan dari UU Cipta Kerja dan PP no 7/2021.

“Kami sebagai koordinator mengintegrasikan berbagai pihak terkait untuk mencapai target wirausaha muda mapan dengan inovasi, teknologi, berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja. Kami di KemenkopUKM juga tengah memperkuat KUMKM,”  ujar Teten.

Data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas BPS menunjukkan dampak pandemi Covid-19 meningkatkan jumlah pekerja informal sebesar 1,18 juta atau 2,62 persen dibandingkan tahun 2019. Walau demikian, rasio kewirausahaan di Indonesia saat ini sebesar 3,47 persen atau relatif rendah dibandingkan Thailand 4,26 persen, Malaysia 4,74 persen dan Singapura 8,76 persen. “Kewirausahaan menjadi solusi untuk menyerap pekerja informal,” tandas Teten. ***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp