Tuesday, 05 March 2024

Search

Tuesday, 05 March 2024

Search

Suara Hati Nurani, Suara Tuhan

Budi S Tanuwibowo (Ketum MATAKIN)

Sebentar lagi kita akan melaksanakan Pemilu ke 13 terhitung sejak Indonesia merdeka dan Pilpres secara langsung kelima sejak 2004. Dan yang lebih khusus hajatan besar 14 Februari 2024 nanti sekaligus merupakan Pemilu serentak yang pertama kali.

Tentu ini lebih kompleks dan rumit dibanding Pemilu-Pemilu sebelumnya. Setiap pemilih akan diberi 5 lembar kertas suara untuk pemilihan Presiden/Wapres, Anggota DPD, DPR, DPRD I dan DPRD II – kecuali untuk Provinsi DKI Jakarta yang hanya 4 (empat) kertas suara, karena tidak ada pemilihan Anggota DPRD II.

Selain lebih rumit dan kompleks, juga dikhawatirkan akan terjadi banyak “kecurangan” seperti yang sudah marak dibicarakan banyak orang di berbagai media.

Tentu hal ini perlu menjadi perhatian serius kita bersama mengingat Pemilu -apalagi Pilpres sangat penting dan menentukan bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara kita, setidaknya untuk jangka waktu 5 tahun ke depan.

Sungguh sayang bila nantinya biaya penyelenggaraan pemilu dan pilpres yang sangat besar – sekitar 71.3 T rupiah, yang hampir setara dengan APBD DKI tahun 2023, berakhir sia-sia jika tak menghasilkan pemimpin yang berkualitas.

Tentu bukan hanya biaya besar yang membuat kita semua perlu serius berupaya agar Pemilu dan Pilpres bisa berjalan lancar, aman, damai, luber, jurdil dan bermartabat, tetapi yang jauh lebih penting adalah memastikan perjalanan bangsa dan negara kita – setidaknya lima tahun ke depan, menuju ke arah yang benar.

Dalam pergolakan masa depan yang tidak pasti, yang ditandai dengan persoalan perubahan iklim ekstrim yang mengancam pasokan pangan dan kehidupan manusia, persaingan keras antara Amerika dan kawan-kawan dengan Tiongkok-Rusia dan kawan-kawan, negara sepenting dan se strategis Indonesia tentu akan ditarik keras kesana-kemari; dan bila kita tidak pandai-pandai menempatkan diri, akan membuat negara kita terombang-ambing dan terjepit di tengah dua kekuatan raksasa dunia tersebut.

Dalam situasi penuh tantangan seperti itu tentu peran pemimpin sentral seperti Presiden akan sangat penting dan menentukan.

Dibutuhkan sosok pemimpin yang tidak saja berkarakter unggul dan mencintai negaranya, tetapi juga yang berwawasan luas, arif-bijaksana, jujur, adil, cerdas dan sekaligus tangguh dan berani.

Itulah sebabnya kesuksesan Pemilu dan Pilpres kali ini tidak boleh sekedar diukur dari kesuksesan teknis penyelenggaraannya saja, tetapi juga perlu diukur dari sukses tidaknya memilih wakil rakyat dan terutama Presiden dan Wakil Presiden yang paling tepat.

Dalam Shu Jing, V. IB. 7, salah satu Kitab Suci Agama Khonghucu, dikatakan, “Tian – Tuhan Yang Maha Esa melihat seperti rakyatku melihat, Tian mendengar seperti rakyatku mendengar”.

Secara tersirat jelas tergambarkan bahwa suara rakyat adalah cerminan suara Tuhan itu sendiri. Tentu selama suara rakyat ini benar-benar murni keluar dari lubuk hati nurani yang paling dalam dan paling jujur. Bukan suara yang sudah terpengaruh oleh bisikan, bujukan, rayuan, ajakan, iming-iming atau tekanan. Suara nurani inilah yang harus kita jaga benar kemurniannya agar memberikan hasil terbaik.

Hak Suara atau Hak Memilih adalah keistimewaan yang diberikan negara demokrasi kepada setiap warga negaranya untuk ikut menentukan arah dan masa depan negara untuk jangka waktu tertentu.

Jangan sia-siakan dan atau dijual murah dan atau mau dibelokkan oleh faktor-faktor yang datangnya dari luar diri. Perlu diingat kenikmatan sesaat bisa membawa petaka yang panjang.

Setiap pemilih mempunyai hak merdeka untuk menentukan pilihannya. Tak usah berdebat, tak usah ribut saling menentang terhadap mereka yang berbeda pilihan. Saat malam sebelum tidur lebih baik tenangkan hati dan pikiran. Coba tilik ke dalam diri masing-masing dan bicara dengan hati nurani. Putuskan besok memilih siapa yang menurut suara hati nuraninya sendiri yang terbaik. Jangan ragu, jangan bimbang, ikuti suara nurani.

Kriteria pemimpin ideal

Apa kriteria seorang pemimpin yang ideal?. Meski tidak gampang atau bahkan sulit ada yang memenuhi semua persyaratan ideal, namun uraian holistik atau menyeluruh ini mudah-mudahan bisa membantu kita dalam menentukan pilihan 14 Februari 2024 nanti.

Pemimpin yang ideal ke atas taat dan takut akan Tuhan. Taat akan membuatnya teguh lurus berjalan selaras Jalan Kebenaran. Takut akan Tuhan membuat langkahnya hati-hati agar tidak melanggar garis Kebenaran dan sekaligus membuatnya tidak akan main-main dengan kekuasaan yang dikaruniakan Tuhan dan diamanahkan rakyat kepadanya.

Dengan kata lain ia akan bertanggungjawab penuh, menjalankan tugas dan kewajibannya secara maksimal dan akan menghargai manusia dengan kemanusiaannya yang hakiki.

Ke bawah ia benar-benar mencintai tanah air, rakyat, bangsa dan negaranya melebihi kecintaannya kepada keluarga, golongan dan atau kelompok. Tak mudah silau oleh harta atau kekayaan dan atau kekuasaan. Bukan semata karena ia telah disumpah untuk mengabdikan diri sepenuhnya, melainkan tekad itu murni keluar dari sikap Bakti dan Cunta pada negaranya yang tidak mendua.

Karenanya ia akan bekerja keras sekuat tenaga mengemban tugas dan amanah yang amat berat, terutama mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan penghasilan tinggi sesuai dengan kekayaan alam yang dimilikinya.

Di sini dibutuhkan bukan saja pemimpin yang cerdas, tetapi juga tangguh secara mental, baik karakternya dan mempunyai fisik prima dan tahan gemblengan.

Ke belakang rekam jejak-langkahnya baik, tidak menyimpang dari kepatutan dan kebenaran. Bereputasi baik dan berkinerja unggul, memahami sejarah, adat-istiadat dan budaya bangsanya, sehingga tidak mudah terjerumus mengulangi kekeliruan yang sama. Mampu berencana spesifik, khusus, khas mengingat Indonesia sangat beragam dari berbagai aspek sosial, budaya, agama, dll.

Ke Kiri senantiasa tanggap terhadap perubahan zaman. Dunia selalu bergerak, dinamis, berubah. Baik yang dipicu oleh perkembangan ilmu dan teknologi, maupun oleh tantangan dan perkembangan zaman, perubahan iklim atau politik. Dinamika yang terus bergerak, berubah ini tentunya wajib diantisipasi cermat oleh para pemimpin -terutama pemimpin tertinggi. Untuk bisa mengantisipasi dengan baik tentunya pemimpin dituntut untuk senantiasa belajar agar mampu meneliti inti setiap persoalan dan mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan zaman.

Ke Kanan pemimpin harus mempunyai kemampuan berdialog, berkomunikasi, berdiplomasi yang baik, sehingga.ia mampu berbicara dalam bahasa rakyat sampai bahasa pergaulan antar pimpinan negara. Sejatinya salah satu kunci utama yang penting dan menentukan dalam hubungan masyarakat -nasional atau internasional, adalah kemampuan berkomunikasi.

Akibat kerusakan lingkungan yang semakin parah, peningkatan kebutuhan manusia, keserakahan, persaingan antar negara yang semakin keras, pengaruh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi, ini semua membuat masa depan menjadi semakin sarat tantangan dan sekaligus juga peluang. Menghadapi situasi seperti ini, maka ke depan tentunya kita membutuhkan kapasitas kepemimpinan yang kuat, sekaligus cepat, sigap, berwawasan luas, tanggap terhadap perkembangan zaman, dan arif bijaksana

Di Tengah, dalam diri Pemimpin itu sendiri, tentu harus bisa menjadi teladan bagi rakyatnya, apalagi bagi masyarakat Indonesia yang masih paternalistik. Pemimpin akan dinilai karakternya. Apakah ia memegang janji? Jujur dan adil. Satunya kata dan perbuatan. Berani dan welas asih. Arif dan bijaksana.

Kriteria yang Tampak Mata

Kriteria yang telah dipaparkan di atas cukup lengkap dan menyeluruh. Mulai dari takut dan taat akan Tuhan, berbakti dan mencintai negara, mempunyai jejak langkah yang baik dan memahami akar adat-istiadat, budaya dan sejarah, suka belajar dan menaruh perhatian penting pada pendidikan, mempunyai kemampuan komunikasi dan diplomasi yang tanggap cepat dan antisipatif terhadap masa depan, serta berwatak baik.

Meski kriteria yang dipaparkan di atas cukup jelas dan mendetail, namun tak semua orang mempunyai kecukupan data untuk menelisik dan menyimpulkan mana pilihan terbaik.

Di dalam Kitab Lun Yu XVI, 10, ada ayat yang menguraikan sembilan perilaku seorang Junzi, insankamil atau pemimpin, sbb : (1) Pemerhati yang sangat teliti, tidak gegabah dan utuh, (2) Pendengar yang baik, menyeluruh dan sabar, (3) Wajahnya senantiasa ramah, (4) Sikapnya penuh hormat, (5) Tutur katanya penuh satya, dapat dipercaya, (6) Kerjanya baik, tuntas dan sungguh-sungguh, (7) Bila ragu-ragu tak segan bertanya kepada yang lebih tahu, (8) Bila marah selalu terkontrol ingat kesukaran yang nanti diakibatkannya, dan (9) Bila menjumpai keuntungan senantiasa ingat Kebenaran, Kepatutan dan Tahu Malu.

Selamat menggunakan hak pilih dengan bertanggung-jawab. Ikuti suara hati nurani. Yakin suara hati-nurani adalah suara Tuhan!

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media