Monday, 26 February 2024

Search

Monday, 26 February 2024

Search

Seminar Tiga Spirit Gus Dur Pamungkasi Bazar UMKM Sambut Imlek

KA-KI : Gatot Seger Santoso, Dr. Novi Basuki dan Dr. David S.Kodrat MM.

SURABAYA—Kemeriahan dan semarak perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Abdurrahman Wahid, atau yang biasa dipanggil Gus Dur.

         Hal ini disampaikan oleh Penulis Buku “Islam di China: Dulu dan Kini” Dr. Novi Basuki pada Minggu (22/1) lalu dalam pamungkas acara Bazar UMKM Sambut Imlek yang diselenggarakan oleh Yayasan-Perkumpulan Tionghoa bekerja sama dengan Universitas Ciputra, di Atrium Lantai G Ciputra World Mall Surabaya.

         “Tanpa Gus Dur, mungkin imlek masih tidak ubahnya obat-obatan terlarang sebagaimana yang terjadi di zaman orde baru (Orba),” kata Novi Basuki.

         Novi menambahkan di zaman Orba, warga Tionghoa tidak bisa menyelenggarakan kebudayaan Tionghoa di depan umum. Tidak bisa berbicara bahasa Mandarin di depan umum. Juga tidak bisa sekolah berbahasa Mandarin.

         “Apalagi mengadakan pertunjukan barongsai seperti saat ini. Bisa dibubarkan paksa. Pemainnya dijebloskan penjara. Mungkin saya juga akan ditangkap,” katanya.

Ketua Koordinator PMTS H.A. Nurawi dan Ketua PITI Jatim Haryanto Satryo berfoto bersama sejumlah tokoh lainnya.

         Suasana penuh kekangan atas warga Tionghoa tersebut berubah drastis begitu Gus Dur jadi Presiden. Gus Dur kemudian mencabut aturan-aturan yang melarang warga Tionghoa untuk menunjukkan ke-Tionghoa-annya selama 32 tahun.

         “Apa hikmah yang bisa diambil oleh tindakan Gus Dur saat itu yang bisa dikatakan menentang arus zaman? Bahwa Gus Dur punya spirit keterbukaan. Mau belajar apapun dan kepada siapapun. Bahkan ia berani mengakui terang-terangan, untuk ukuran saat itu, bahwa dalam tubuhnya mengalir darah Tionghoa. Ini artinya, Gus Dur mengajak dan mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu fanatik pada satu hal, keyakinan atau ideologi,” terang Novi lagi.

         Pembicara lainnya adalah Ketua PD Perhimpunan INTI Jawa Timur Gatot Seger Santoso.

Dia mengatakan, dua sisi yang paling menonjol dari Gus Dur yaitu pembelaann atas kemanusiaan serta rasa keadilannya.

         “Siapapun yang minta perlindungan beliau, siapapun yang tertindas atau terpinggirkan, Gus Dur pasti maju ke depan. Tanpa memikirkan resikonya,” kata Gatot Seger.

         Gatot kemudian mencontohkan ketika Gus Dur memberikan pengakuan bahwa dirinya memiliki darah Tionghoa. Pengakuan tersebut menurutnya dilontarkan oleh Gus Dur jauh sebelum era reformasi.

         “Orang mengira bahwa pengakuan tersebut untuk mengambil hati orang Tionghoa. Tidak sama sekali. Karena pengakuan tersebut sudah diucapkan Gus Dur jauh sebelum masa Reformasi,” katanya.

         Gatot lalu mengisahkan peristiwa Kapasan di Surabaya yang diikuti oleh pengrusakan-pengrusakan. Saat itu, Gus Dur langsung tampil ke depan. Kemudian mengatakan bahwa beliau keturunan Tionghoa.

         “Beliau mengatakan itu tanpa memikirkan resikonya. Jadi Gus Dur pasti tampil untuk melindungi yang lemah,” katanya.

         Acara yang diinisiasi oleh YHMCHI (Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia), DPW PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Jatim, DPD PITI Surabaya,  YBP (Yayasan Bhakti Persatuan), PMTS (Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya) dan Universitas Ciputra tersebut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jatim Dr. Lia Istifhama, MEI, Johan Hasan dari Universitas Ciputra, Ketua Koordinator PMTS H.A. Nurawi, Ketua PITI Jatim Haryanto Satryo, Sekretaris PMTS Rasmono Sudarjo dan Dr. David S.Kodrat MM., CPM CRME & H dari Universitas Ciputra. idn/din

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media