Sekolah di Tasikmalaya Dipaksa Beli CD Pembelajaran Daring Seharga Rp2.250.000

CD media pembelajaran interaktif yang dijual paksa ke madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Tasikmalaya dengan harga Rp2.250.000.

TASIKMALAYA- Satgas Saber Pungli Jawa Barat sedang menyelidiki kasus dugaan jual paksa compact disc (CD) media pembelajaran interaktif dengan harga fantastis ke sejumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Tasikmalaya. Satu paket berisi 15 keping CD berisi berbagai mata pelajaran serta silabus pembelajaran online dijual dengan harga Rp2.250.000.

 Ketua Tindak 2 Saber Pungli Jabar, AKBP Zul Ajmi mengatakan, pihaknya telah memeriksa dan meminta klarifikasi berbagai pihak mulai Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI), perusahaan swasta, oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kasus penjualan CD yang terjadi di Tasikmalaya dugaan terutama menyalahi aturan.

“Sejumlah kepala Madrasah Ibtidaiyah mengeluhkan mahalnya harga CD media pembelajaran interaktif senilai Rp2.250.000. Pembayaranya dari dana BOS secara tunai. Barang tersebut tidak memiliki legalisasi dari pemerintah seperti SNI dan HAKI.

Kepala sekolah harus membayar tunai meski sebelumnya dijanjikan bisa dicicil,” kata Zul Ajmi, Senin (26/4).

Sementara itu, kepala madrasah yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan ia dipaksa membeli paket pembelajaran daring dengan harga Rp2.250.000. Padahal pembelajaran daring itu tidak diperlukan lagi karena kontennya selama ini bisa diunduh di internet. Sekolahnya tidak pernah memesan tapi Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) kecamatan menyampaikan CD tersebut merupakan titipan dari Kemenag Kabupaten Tasikmalaya.

“Walaupun bahasanya tidak mewajibkan, tapi sudah diikat per paket dengan ditulisi nama masing-masing madrasah dan diminta untuk diambil. Alasan ketua KKMI kalau tak diambil menjadi dilematis sebab ini barang titipan dari atas. Barang tersebut juga tak bisa dibuka harganya pun sangat mahal. Tapi ada yang sudah membuka dan isinya juga berupa RPP dan silabus pembelajaran daring dengan format Microsoft Word dan Excel seperti yang biasa dipakai,” ungkapnya.

Adanya penjualan paket CD tersebut terkesan dipaksa beli dengan menggunakan dana BOS. Padahal saat ini banyak guru mengunduh di Playstore. Berdasarkan keterangan sejumlah madrasah, sebelumnya CD serupa dan dikeluarkan oleh perusahaan yang sama yakni CV Sintesa Creative beralamatkan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, 15 keping CD seharga Rp700 ribu tapi sekarang menjadi Rp2.250.000.

“Isi dalam CD itu kemungkinan hasil unggahan dari internet, tetapi harganya bisa mahal. Sekarang isinya tidak penting karena setiap awal semester madrasah mendapat RPP dan silabus dari pemerintah. Kami berharap agar ke depan jangan ada jual paksa lagi seperti ini, apalagi barangnya tidak diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Surya Mulyana mengatakan, pihaknya membenarkan adanya penjualan CD pembelajaran daring diperuntukkan untuk 218 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Namun pihaknya tidak memaksa sekolah membeli.  “Memang awalnya banyak LSM melakukan aksi demo dengan mempermasalahkan tidak jelas, sudah lama berisik hingga akhirnya dari Kemenag memberikan proyek berupa CD. Tapi penjualan tak ditekankan membeli 15 keping seharga Rp2.250.000. Sedangkan, SD di Tasikmalaya justru Dinas Pendidikan sendiri sudah melayangkan surat agar 1.890 sekolah membeli CD pembelajaran dengan harga Rp1.650.000 juta,” ungkap Surya Mulyana. ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp