Sejak Kudeta, 44 Anak-anak Tewas Dibunuh Militer Myanmar

YANGON(IM) – Setidaknya 44 anak-anak dibunuh oleh personel Angkatan Bersenjata Myanmar sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu.
Menurut lembaga sosial Save the Children, Myanmar mengalami “situasi yang mengerikan”, dan korban meninggal termuda adalah bocah berusia tujuh tahun.
Organisasi pemantau itu mengatakan total korban meninggal dunia mencapai 536 orang.
Utusan Myanmar untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan adanya risiko “pertumpahan darah yang tak dapat dihindari” ketika penumpasan semakin sengit.
Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul pertempuran sengit antara tentara dan gerilyawan etnik minoritas di wilayah perbatasan.
Kekacauan di Myanmar bermula dua bulan lalu, ketika militer mengambil alih kendali negara menyusul kemenangan telak Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi.
Ketika puluhan ribu orang tumpah ke jalan-jalan menentang kudeta, militer menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.
Sesudah seminggu, respons yang ditempuh militer berubah. Mereka kemudian menggunakan peluru karet dan peluru tajam.
Hari yang paling banyak memakan korban adalah Sabtu (27/03) ketika lebih dari 100 orang dibunuh.
Para saksi mata mengatakan tentara bersenjata menyerang warga secara membabi buta di jalan-jalan, dan sebagian korban bahkan dibunuh di rumah mereka sendiri.
Keluarga dari bocah tujuh tahun Khin Myo Chit mengatakan kepada BBC bahwa ia dibunuh oleh polisi ketika berlari ke arah ayahnya dalam penggerebekan di rumahnya di Mandalay pada akhir Maret.
“Mereka mendobrak pintu untuk membukanya,” kata kakaknya, May Thu Sumaya, 25.
“Ketika pintu terbuka, mereka menanyakan kepadanya apakah ada orang lain di rumah,” terangnya.
Ketika dijawab tidak, mereka menuduhnya berbohong dan mulai menggeledah rumah.
Saat itulah Khin Myo Chit berlari ke arah ayah mereka untuk duduk di pangkuannya. “Kemudian mereka menembak dan memukulnya,” lanjutnya.
Korban lain dari kelompok umur anak adalah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang diyakini ditembak di dalam rumah atau di dekat rumah di Mandalay, dan seorang anak berusia 13 tahun yang ditembak di Yangon ketika sedang bermain di jalan.
Lembaga sosial Save the Children memperingatkan jumlah jumlah anak-anak yang terluka dalam bentrokan kemungkinan juga tinggi, dan memberikan contoh kasus seorang bayi satu tahun yang dilaporkan kena tembakan peluru karet pada mata.
Save the Children mengatakan kekerasan tersebut berdampak pada kesehatan mental anak-anak karena mereka mengalami ketakutan, kesedihan dan stres.
“Anak-anak menyaksikan kekerasan dan horor,” ungkap lembaga itu.
“Jelas Myanmar tidak lagi aman bagi anak-anak,” ujarnya.
Hingga kini penguasa militer pimpinan Jenderal Senior Min Aung Hlaing belum memberikan tanggapan atas jatuhnya korban di pihak anak-anak.
Kekerasan yang terjadi di negara itu telah dikecam masyarakat internasional.
Berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin kudeta dan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan militer.
Sementara itu, pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan junta militer, Aung San Suu Kyi , dijerat dengan dakwaan baru yakni melanggar undang-undang (UU) rahasia negara. UU rahasia negara ini merupakan produk hukum era kolonial.
Itu merupakan dakwaan paling serius yang diajukan terhadap Suu Kyi sejauh ini.
Pengacaranya mengatakan kepada Reuters, Jumat (2/4), bahwa dia mengetahui dakwaan baru yang berlaku hingga 14 tahun hanya dua hari yang lalu.
Dakwaan baru dijatuhkan sehari setelah Suu Kyi muncul melalui tautan video di pengadilan sehubungan dengan dakwaan sebelumnya.
Dia ditangkap pada 1 Februari ketika militer merebut kekuasaan melalui kudeta.
Mereka menuduh bahwa pemilu November 2020, yang dimenangkan secara telak oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) partainya Suu Kyi adalah hasil kecurangan. Komisi pemilu menolak tuduhan junta militer soal kecurangan pemilu tersebut dan sejauh ini tidak ada bukti yang diajukan terkait tuduhan itu.
Myanmar telah diguncang oleh protes berminggu-minggu sejak kudeta yang disambut dengan tindakan keras militer yang semakin meningkat. Lebih dari 500 orang—termasuk 40 anak telah tewas sejauh ini.
Pengacara utama Suu Kyi, Khin Maung Zaw, mengatakan kepada Reuters bahwa Suu Kyi, bersama dengan tiga menteri kabinetnya yang digulingkan dan penasihat ekonomi asal Australia yang ditahan, Sean Turnell, telah didakwa berdasarkan undang-undang rahasia negara.
Dia mengatakan mereka didakwa seminggu yang lalu di pengadilan Yangon, tetapi dia baru mengetahuinya dua hari lalu.
Pemimpin sipil berusia 75 tahun yang dikudeta itu sebelumnya didakwa melakukan korupsi, di mana militer menuduhnya menerima uang suap USD550.000 dalam bentuk tunai dan 11kg emas dari pengusaha untuk memuluskan sebuah proyek.
Dia juga didakwa melanggar Undang-Undang Bencana Alam negara itu dan mengimpor walkie-talkie secara ilegal.
Suu Kyi muncul di pengadilan melalui tautan video pada hari Kamis sehubungan dengan beberapa dakwaan tersebut. Salah satu pengacaranya, Min Min Soe, mengatakan dia tampak dalam keadaan sehat.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp