International Media

Minggu, 2 Oktober 2022

Minggu, 2 Oktober 2022

Sadis, ART Ini Disiksa, Dituduh Gila dan Gajinya Juga Tak Dibayar Majikan

ART korban penyiksaan majikan.

SLEMAN – Nasib miris dialami oleh Irmawati (29), warga Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, selama dua bulan lebih disiksa pasangan suami istri, AN dan B, yang merupakan majikannya yang tinggal di Godean, Sleman.

Selama bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), ia selalu mendapat kekerasan dari majikannya terutama ketika melakukan kesalahan.

Bahkan ia dipaksa menyiksa dirinya sendiri kemudian direkam. Oleh majikannya, video tersebut kemudian ditunjukkan ke orang lain dengan narasi pembantunya sudah gila.

Korban bersama Tim Kuasa Hukum dari PSBH UCY, Senin (18/4) siang, mendatangi Sat Reskrim Polda DIY untuk melaporkan penyiksaan yang dialami Irmawati. Masih nampak jelas sejumlah bekas luka yang dialaminya, termasuk rambut yang dipotong tak beraturan.

Irmawati menceritakan, awalnya ia bekerja di rumah AN yang berada di Kroya – Cilacap dan kemudian dipindah ke rumah ibu dari dari AN di Majenang – Cilacap. Namun pada bulan Januari 2022, korban ditawari AN untuk bekerja sebagai ART di kediamannya di Sleman.

Saya ditawari kerja di sana untuk momong mengasuh anak dari AN yang terletak di Sleman Yogyakarta. Saya terpaksa ikut karena keadaan serba sulit. Saat itu saya dijanjikan gaji Rp1,7 juta,” ujar korban di Mapolda DIY, Senin (18/4).

Pada tanggal 9 Januari 2022 korban tiba di rumah AN dan mulai bekerja tanggal 10 Januari 2022. Irmawati bertugas mengasuh anak dari pasangan AN dan B yang masih balita. Ia juga mengurusi segala hal berkaitan dengan anak majikan.

Setelah dua minggu bekerja, korban kemudian meminta untuk berhenti karena merasa tidak betah dengan perlakuan majikan. Sang majikan selalu memarahi korban tanpa alasan yang jelas dan terkesan mengada-ada.

“Saya tidak kerasan. Karena sering dimarahi dan terkesan mencari-cari kesalahan,” ujarnya.

Sang majikan memperkenankan korban berhenti namun dengan syarat harus mencari penggantinya. Hingga bulan Maret 2022, korban kesulitan mendapatkan pengganti sehingga tetap bekerja di rumah pengusaha apotek tersebut.

Perlakuan majikan semakin semena-mena terhadap korban. Gaji yang diberikan juga tidak sesuai yang dijanjikan. Bulan pertama hanya diberi Rp1,1 juta, bulan kedua Rp700 ribu dan bulan ketiga sama sekali tidak diberi gaji.

“Alasanngya saya dianggap tidak mampu bekerja dengan sungguh-sungguh. Padahal tidak demikian,” katanya.

Februari 2022, Irmawati menghubungi keluarga meminta untuk dijemput namun tak kunjung dijemput. Korban kemudian menghubungi bibinya melalui pesan WA guna menceritakan (curhat) kondisi yang dialami pada tempat kerjanya.

Namun aksi tersebut diketahui oleh majikannya yang kemudian menyiksa korban. Irmawati kemudian dipaksa untuk membuat surat pernyataan maaf kepada majikan atas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut.

“Korban dengan penuh tekanan kemudian membuat surat tersebut yang isi suratnya didikte oleh majikannya,” ucapnya.

Selama bekerja, Irmawati mendapat perlakuan kasar dari sang majikan. Ia sering dipukul baik dengan tangan kosong ataupun pakai shower. Ia juga sering disiram air panas. Tak hanya itu, ia juga sering dipaksa memukul diri sendiri dan kemudian direkam.

“Rambut saya juga dipotong acak di bagian depan,” ujarnya.

Kuasa Hukum Korban, Farid Iskandar menuturkan korban mendapat berbagai penyiksaan. Penyiksaan tersebut terus berulang terutama ketika korban membuat kesalahan. Tak hanya itu, hak yang diberikan kepada korbanpun tidak seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Menurut Farid, apa yang dilakukan pengusaha ini terhadap Irmawati selaku ART-nya sudah di luar batas kemanusiaan. Bahkan pasangan ini sudah mempersiapkan alibi ketika suatu saat aksi mereka ketahuan.

“Untuk menutupi alibinya, pasangan suami istri tersebut memaksa korban memukul dirinya sendiri dan kemudian direkam. Rekaman tersebut kemudian diberikan ke tetangga dan mengatakan korban sudah gila,” tambahnya.

Suatu ketika, korban diseret menuju toko yang berada di depan rumah majikannya. Saat itu sang majikan mengatakan ke orang-orang yang berada di tempat tersebut jika pembantunya sudah gila sembari menunjukkan kondisi baju yang robek bagian depan akibat digunting.

Sang majikan juga menunjukkan video jika korban sering menyakiti dirinya sendiri sambil menunjukan video-video tersebut. Setelah kejadian di toko tersebut, korban kemudian kembali diseret untuk masuk ke rumah majikannya tanpa ada seorangpun yang membantu. “Korban juga pernah dipukuli oleh majikannya, baik menggunakan tangan, menggunakan botol sirup (botol kaca), dibenturkan dengan tembok rumah, maupun dibenturkan dengan pintu ketika melakukan sebuah kesalahan. Kami melapor atas dasar KDRT dan tentu juga KUHP,” tandasnya.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga